Monday, December 25, 2023

Persiapan LPDP



Saya sadar, jika tulisan ini tidak serius amat, sehingga pembaca tidak perlu serius juga membaca, apalagi memahaminya. 


Tulisan ini tidak seperti biasanya, saya menuliskan sebenarnya tidak bermaksud apa apa, melainkan sekadar catatan perjalanan saja, sejak saya bertemu dengan salah seorang yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Australia.


Awalnya saya mau menuliskan kiat-kiat lolos seleksi SECHOLARSHIP dengan mudah. Tetapi karena waktunya sedang ngopi bareng teman, sehingga saya bermaksud menuliskannya di lain waktu saja. InsyaAllah.


Yang penting, ada beberapa hal yang mau saya bincangkan di sini. Seperti, pentingnya mempersiapkan TOEFL dan Ielts. Intinya, dengan nilai kedua sertifikat tersebut, urusan hidup di negara orang don't worry! 

Kamu dijamin hidup. 


Next di termin selanjutnya. InsyaAllah. 

Saturday, September 26, 2020

Resensi Times Indonesia (Kids zaman Now)

 Kids Zaman Now, Tasawuf dan Islam Yang Ramah

Judul: Kids  Zaman Now, Menemukan Kembali Islam

Penulis: Dr. Muhammad Nursamad Kamba

Penerbit: Pustaka Iman

Tebal: 304 halaman

ISBN: 978-602-8648-28-8


Bertasawuf dalam kehidupan manusia kekinian masih terlihat sangat minim. Seakan-akan implementasi nilai-nilai tasawuf kurang begitu diperhatikan. Sejatinya Islam dan tasawuf adalah merupakan satu kesatuan yang tak dapat terpisahkan.

Menurut penulis tasawuf dan Islam merupakan sesuatu yang saling menyatu. Keduanya menyatu dan menunggal, tidak bisa dibedakan mana akar mana cabang.

Tasawuf menjadi pondasi dan prinsip dalam  Islam. Demikian mengutip pernyataan Prof. Dr. Husain Mu'nis dalam bukunya Dustur Umat Islam: Dirasat Fi Ushul al-Hukm wa al-Thabi'atihi wa Ghayatihi 'Inda al-Muslimin. Itu artinya, bahwa Islam hadir bersamaan dengan itu pula pendidikan tasawuf. 


Dalam hal ini, Islam tidak hanya berisi tentang seperangkat indoktrinasi dan teologis, akan tetapi jauh lebih penting dari itu adalah tentang adab, moral atau akhlak. (lanjut baca DI SINI)

Saturday, May 30, 2020

Cara Capat Menyusun Tugas Akhir; Skripsi, Tesis dan Disertasi



Judul: Metodologi Penelitian Kuantitatif
Penulis: Prof. Fred L. Benu dan Prof. Agus S. Benu
Penerbit: Prenadamedia
Cetakan: Pertama September 2019
Tebal: xii + 358 halaman
ISBN: 978-623-218-255-4
Oleh: Ashimuddin Musa

Mahasiswa semester akhir pasti akan melakukan penelitian sebagai pemenuhan tugas akhir. Tidak sedikit dari mereka terkadang merasa kesulitan dalam menyusun laporan akhir tersebut. Di satu sisi karena minimnya bahan literasi mereka.

 Di sisi lain, karena dalam menulis tugas akhir ini ada langkah-langkah konkret yang harus diperhatikan agar mereka bisa menyelessaikan tugas akhirnya dengan sempurna.

Buku ini berisikan tentang beberapa informasi berkenaan dengan pembahasan metodologi penelitian. Metodologi penelitian ini adalah sebuah jalan untuk menuju puncak (objek aatau sasaran yang dituju) penelitian.

 Untuk menuju puncak  ada banyak jalan yang membingnungkan, sehingga melalui jalan-jalan ini para peneliti harus melewatinya. Jalan-jalan dimaksud adalah sebuah langkah atau proses. Atau dengan kata lain sebagai metode. Bagaimana cara mengingat banyak jalan yang terkadang membingungkan sementara ingatan dan pemaahaman para peneliti sangat terbatas?.

Memimpikan menyusun karya tulis ilmiah sebagai pemenuhan tugas akhir agar segera selessai adalah bukan perkara mudah. Terkadang, banyak mahasiswa tidak segera menyelessaikan studinya bukan karena materi perkuliahannya tidak kunjung selessai, melainkan karena ada beberapa faktor yang beralasan sehingga mereka tidak segara diwisuda. Misalnya, karena tidak segera menyususun karya tulis ilmiah (skripsi, tesis dan desertasi) sebagai tugas akhir.

Dalam menyusun tugas akhir ini, para mahasiswa ataupun peneliti setidaknya telah menguasai dan memahami metode-metode penelitian. Ibarat jalan raya, beberapa metode penelitian ini berfungsi sebagai petunjuk jalan yang dapat memberikan informasi bagi siapapun. Melalui petunjuk jalan ini, seseorang akan terbantu menemukan titik sasaran yang dituju.

Demikian halnya metode-metode penelitian. Ia menjelaskan prosedur atau proses untuk mencapai objek atau sasaran yang ingin dicapai sehingga berkaitan dengan prosedur sistematis, teknik, atau cara penelitian yang dilakukan sedemikian rupa supaya sesuai dengan disiplin atau seni tertentu (hlm. v).

Para mahasiswa tidak perlu khawatir tugas-tugasnya tidak kunjung selesai jika yang bersangkutan telah benar-benar memahami pengertian metodologi penelitian dengan sebaik-baiknya.

Pembahasan metodologi penelitian hanya memberikan jalan, menuntun para mahasiswa atau peneliti pada suatu arah yang lebih rasional, benar, dan tepat sasaran, sehingga tidak diperlukan lagi celoteh “saya tidak faham”; “sayab tidak tahu cara memulainya”; dan lain sebagainya kepada dosen pembimbing yang bertugas membimbing dalam proses penyusunan tugas akhir, tinggal bagaimana mereka sanggup menjalaninya.

Biasanya keluhan mereka di seputar ide. Padahal ide-ide tersebut berseberangan di sembarang tempat, ruangan, alam bebas dan di manapun. Tidak percaya diri mereka aja yang berlebihan sehingga takut memberanikan diri menyusun tugas akhir tersebut. Padahal manusia itu mampu menalar sesuatu yang abstrak yang terletak dalam ranah pengetahuan tentang ketidaktahuan termasuk ketidaktahuannya tentang segala sesuatu yang tidak diketahui yang terletak dalam keseluruhan universum menjadi objek imajinasi manusia (hlm. 13-14).

Secara garis besar, keseluruhan buku ini hadir dalam upaya membantu mengurangi kebingungan para calon peneliti dalam melakukan penyusunan karya tulis ilmiah sebagai tugas akhir. Buku ini diberi judul metodologi penelitian karena pembahasannya sangat luas dari metode penelitian. Oleh karena itu, bagi calon peneliti kiranya membaca dan memiliki buku ini sangat penting.

Tulisan ini telah terbit di Koran Mata Madura

Lebih Mengenal Sang Hujjatul Islam, Imam Ghazali



Judul Buku: Biografi Imam Al-Ghazali
Penulis: Dr. Izzudin Ismail
Penerbit: PT Qaf Media Kreativa
Cetakan: 1, Oktober 2019
Tebal: 197
ISBN: 978-602-5547-61-4
Oleh: ASHIMUDDIN MUSA


Dunia Islam tidak melulu berisi doktrin dan teologi, yang merangkum ensiklopedi perang, melainkan tentang sebuah prestasi. Hal tersebut tentu merupakan sebuah keberhasilan luar biasa dalam sejarah umat Islam. Keberhasilan dimaksud adalah merubah senjata pedang menjadi senjata pena.

Secara historis, perjuangan bangsa Arab, untuk memerdekakan bangsanya, pada dasarnya bukanlah perjuangan dalam bentuk kekerasan. Seperti yang kita yakini, Islam mengajarkan pemeluknya urgensinya sikap ramah. Baik terhadap sesama muslim maupun antar sesama. Jika ada sekelompok orang yang mengaku muslim namun dalam kesehariannya masih tampak kasar pada sesamanya, sejatinya keimanannya masih perlu dipertanyakan. Sudah banyak yang membuktikan bahwa perang tidak dapat memecahkan masalah, mampu membebaskan manusia dari jeratan penindasan dan penjajahan, serta mampu menundukkan manusia pada derajat sebagai insan. Sebab itulah, senjata yang paling ampuh bangsa ini, yang membuatnya mulia, adalah senjata pemikiran, rasional, dan spiritual.

Imam Al-Ghazali termasuk salah satu tokoh muslim yang ikut memainkan peran penting dalam memajukan Islam. Dia telah ikut meramaikan literatur-literatur keislaman setelah Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Khaldun. Ia representasi cendekiawan dari kalangan ulama. Kehebatannya telah diakui semua kalangan. Belum pernah ditemukan ulama hebat selain Al-Ghazali pada masanya. Saking hebatnya, gurunya, Al-Juwaini, mengaguminya sembari menyinggung kelebihan Al-Ghazali, sehingga ia menyipatinya seperti lautan yang sangat dalam.

Tidak seperti cendekiawan muslim pada umumnya yang ketika mendalami sebuah ilmu cukup berhenti pada tataran teoritis tetapi tidak berlanjut pada tataran praksisnya, Al-Ghazali justru tidak demikian. Mempelajari Ilmu menurutnya tidak sekadar semata-mata petualangan-petualangan yang dibacanya dalam buku. Akan tetapi, bagaimana ilmu tersebut dapat menyingkap fenomena yang sangat prinsipil dan khusus. Buku ini menjelaskan trik Al-Ghazali berhasil menemukan ilmu yang dapat memuaskan akalnya di samping menjelaskan pula tentang kekeliruan-kekeliruan para penuntut ilmu.

Menurut Al-Ghazali, untuk menemukan hakikat kebenaran, seseorang harus bisa memisahkan antara ruh dan akalnya sebelum mencapai hakikat kebenaran. Tanpa melalui proses jangka panjang dan kontinuitas, yang terdiri dari fase bertanya, meneliti, menyelidiki, dan menyingkap, keimanan akan menjadi sulit dicapainya. Sebab, hanya melalui proses demikian itulah keimanan seseorang akan selalu datang (hlm. 45).

Buku biografi Imam Al-Ghazali ditulis oleh Dr. Izzudin Ismail. Di dalamnya juga dilengkapi terjemah dari kitab al-Munqidz min al-Dhalal (Penyelamat dari Kesesatan), mengantarkan kita pada lebih mengenal sosok Sang Hujjatul Islam. Apa yang telah diperjuangkan beliau semasa hidupnya telah memberikan kontribusi luar biasa untuk menunjukkan kematangan pemikiran. Karena pemikiran (rasional) menurutnya adalah sebagai komandan perilaku dan penopang keimanan. Dialah yang telah meletakkan rasio untuk melayani keimanan.

Tak jemawa buku ini akademis. Pembaca dari latar belakang pendidikan manapun boleh membacanya. Buku ini bisa dijadikan referensi bagi intelektual baik dosen maupun mahasiswa agar terhindar dari bahaya atau kesesatan dari pemikiran-pemikiran ahli pikir yang tidak tahu Islam, serta mengagumi para filosof secara berlebihan—yang berpotensi menyesatkan. (hlm. 112). (*).


(* Tulisan ini telah terbit di Koran Mata Madura

Sunday, January 19, 2020

Menelusuri Rahasia dan Mempelajari di Balik Rahasia


Islam adalah agama yang turun dari langit--sebuah istilah bukan berarti menganggap Allah SWT mempunyai tempat. Di dalamnya terkandung ajaran-ajaran normatif yang harus diketahui pemeluknya untuk mengantarnya pada pemahaman yang sempurna.

Islam memiliki kedalaman makna. Tiap orang dibekali akal tujuannya untuk menalar setiap pesan dari tiap-tiap ayat dalam Alquran dan Hadis. Keduanya ini diposisikan sebagai sumber otoritatif Islam, karenanya keduanya dipercaya sebagai landasan normatif hukum Islam.

Sebagai Alquran yang teksnya statis maka, seiring pergeseran zaman, ia harus selalu diusahakan dikontekstualisasikan. Manusia yang memiliki peran sebagai Khalifah, dengan pemahamannya yang dinamis, tentu saja sulit untuk menunjukkan bahwa ia telah benar-benar objektif dalam mengutarakan hukum. Sehingga, untaian kata-kata belum bisa kita kategorikan sebagai sesuatu yang normatif dan karenanya wajib diikuti.

Setidaknya kita jangan sampai berharap bahwa untaian kata-kata dari tiap-tiap manusia dihakimi sebagai sesuatu yang absolut, karena tidak ada yang absolut selain Allah SWT itu sendiri. Manusia sebagai wakil Tuhan, dengan segala kerendahan hati, jangai sampai menaruh perasaan bahwa sesuatu yang disampaikannya itu sebagai sesuatu yang benar, kendati menilai sesuatu yang menjadi keyakinan orang lain sebagai sesuatu yang sesat, tempatnya di neraka, oleh karenanya wajib tidak diikuti.

Para ulama kita tidak mengajarkan seperti itu. Mereka menyadari, kemungkinan sesuatu yang mereka pahami sebagai seduatu yang baik (benar), besar kemungkinan juga salah. Imam Syafi'i, misalnya, berbeda pandangan dengan gurunya dalam memahami sebuah kasus, karena baginya sesuatu yang diyakininya telah baik, kendati tidak menutup orang-orang yang tidak sepaham dengannya wajib mengikutinya.

Ini menunjukkan sikap keterbukaan para ulama kita. Sebagai wakil Tuhan tentu berat ketika menjelaskan sebuah perkara tetapi kemudian sesuatu yang disampaikan belum bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang baik.

Berkenaan dengan hal tersebut, bukan berarti setiap orang bisa melakukan penalaran hukum sendiri, diakibatkan kekhawatiran terhadap kesewenang-wenangan. Meskipun imam Syafi'i berbeda dengan pemahaman gurunya, bukan berarti ada indikasi siapapun boleh berijtihad. Para ulama sepakat, ada kriteria khusus untuk bisa menjadi mujtahid (baca: mujtahid).

Alhasil, Sebagai agama yang hanif Islam mengandung beberapa ajaran yang bersifat universal yang penting diketahui setiap hamba untuk bisa sampai pada rahasia-rahasia ajaran Tuhan yang terhampar di alam semesta dan di dalam diri kita; mengarahkan kita menuju kedalaman hakikat dan menyatu dengan Sang Hakikat. (*).

Friday, November 29, 2019

MEMBUMIKAN AL-QURAN TERHADAP MASYARAKAT MILLENIAL

Resensi dimuat kabar madura


Alquran adalah kitab suci yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw melalui pelantara malaikat Jibril. Ia berisikan risalah ilahiah. Melalui kitab ini, Nabi Muhammad mengajarkan kepada umatnya mengenai risalah ilahiah ini agar dengannya umat Islam khususnya dapat mengambil pelajaran dari kitab sucinya.

Sebagai kitab suci yang berisikan kalam Tuhan tentu saja umat Islam dan semua elemin manusia tidaklah dengan mudah akan mampu mempelajari dan memahaminya. Sehingga butuh peran serta kehadiran guru untuk mengajarkannya, baik melalui pembacaan secara literal atau menjelaskan substansi kandungan ayat-ayat Alquran. Dengan demikian, maka Nabi Muhammad inilah kemudian dipilih oleh Allah Swt untuk mewakili-Nya menyampaikan (tabligh) risalah-risalah-Nya ini kepada seluruh umat manusia ini.

Semasa hidup Rasulullah, tidak sedikit dari kalangan umat Islam telah belajar langsung kepadanya. Mereka inilah disebut sebagai para sahabat Nabi. Selanjutnya, Islam terus mengalami perkembangan yang signifikan pasca hijrah. Nabi mengutus para sahabatnya ke berbagai wilayah agar mengajarkan Alquran dan beberapa displin ilmu serta memberikan cerminan kepribadian yang baik kepada masyarakat luas.

Ketika itu, disiplin ilmu belum dibukukan. Dengan bekal hafalan yang kuat, umumnya para sahabat mengingat pesan-pesan yang didapatkan dari Nabi, di satu sisi. Di sisi lain, karena khawatir adanya kesalahan membedakan antara Alquran dan hadis. Meskipun ada catatan dari kalangan para sahabat itu sebagai koleksi pribadi mereka saja.

Akan tetapi berbeda ketika Nabi telah mangkat, banyak orang-orang yang tidak pernah berjumpa bersama Nabi merasa haus akan disiplin keilmuan, yang dengan ilmu tersebut dijadikan sebagai pisau bedah dalam rangka menjembatani manusia mendekatkan diri terhadap Tuhannya. Oleh karena itu maka ada sebagian kesadaran kemudian dari kalangan umat Islam untuk melakukan pembukuan beberapa ilmu untuk melindungi agar tidak hilang begitu saja, mengingat bahwa manusia adalah sifatnya pelupa dan tidak akan kekal di muka bumi.

Buku ini berhasil mengelaborasi beberapa capaian tokoh pelaku sejarah yang berusaha merawat sedikit dari beberapa warisan ilmu yang berkaitan dengan Alquran. Dr. Ahsin Sakho Muhammad melalui tulisan-tulisannya memberikan tiga petakan. Dr. Ahsin menyebutnya sebagai pintu masuk dalam mempelajari ilmu Alquran: pertama, pembacaan teks; kedua, penulisan teks; ketiga, pemahaman teks.

Melalui buku ini, pembaca pada umumnya dan pecinta Alquran khususnya akan dipandu langsung oleh penulis melalui buku ini terkait dengan bagaimana cara memahami Alquran melalui tiga dimensi tadi. Mantan rektor Institut Ilmu Alquran Jakarta (2005-2014) sekaligus pakar ilmu qiraah dan ilmu-ilmu Alquran, melalui tulisan-tulisannya ini, telah berhasil menyuguhkan beberapa poin penting untuk memudahkan pembaca di dalam mempelajari ilmu Alquran melalui tiga dimensi yang telah beliau petakkan tersebut.

Berbeda dengan kitab tafsir yang secara parsial membahas tema per tema, yang terkadang oleh sebagian orang merasa agak membingungkan, baik dikarenakan tidak adanya penguasaan membaca kitab tafsir berbahasa Arab, atau disebabkan tebalnya buku-buku tafsir meski telah berbahasa Indonesia, sehingga memberatkan pembaca untuk menyelessaikannya, maka tidak demikian dengan buku terbitan Qaf Media Kreativa ini.

Dengan pemetakan tiga dimensi tadi, di samping kemasan buku ini ditulis dengan format tanya jawab, mampu menghadirkan beberapa suguhan menarik yang mampu memudahkan para pecinta Alquran untuk menguasai ketiga displin ilmu seketika: ilmu qiraah—atau yang disebut dengan pembacaan teks, penulisan teks dan terakhir berkenaan dengan pemahaman teks. Inilah menariknya buku ini yang tidak ditemukan pada beberapa buku lainnya. (*)

Wednesday, November 13, 2019

Kebersamaan Itu Indah, lho.


Hakikat manusia terlahir fitrah. Mereka diciptakan oleh Allah SWT untuk mengabdi. Berkenaan dengan mengabdi, Allah mengajarkan manusia agar menempuh dua cara: pertama, hubukan vertikal, seperti melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya; kedua, hubungan horizontal (antar sesama hamba), seperti gotong royong, ramah dan dermawan dan lain-lain.

Fitrah manusia terkadang melemah diakibatkan oleh lingkungan dimana mereka tinggal. Ada yang mengatakan, pendidikan terbaik adalah pendidikan keluarga. Ketika keluarga telah berhasil mendidik keluarga --dlm hal ini anak--dengan baik besar harapan anak akan terbentuk dengan baik. Begitupun sebaliknya.

Selain keluarga, teman sekitar. Akibat pergaulan menyebabkan --bisa jadi-- malapetaka. Perubahan secara dinamis kemungkinan terjadi. Akhlak terkikis. Ketika ini terjadi jangan salahkan anak-anaknya.

Arek-arek (sebutan lain dari anak-anak) Prang Alas memiliki cara berbeda mengantisipasi dekadensi moral ini. Kebersamaan adalah cara mereka membangun ikatan emosional, sehingga dg demikian setiap individu telah dengan sendirinya akan terbentuk rasa kesadaran yang telah mengikat tanpa harus selalu dipandu melakukan hal yang sama.

Thang Nyamah Umam menjadi pionir dalam acara ini. Implementasi kebersamaan ini bertujuan menyemai benih-benih ukhuwah islamiah, ukhuwah Basyariah dan ukhuwahnya Wathaniyah, sehingga kontekstualisasi ajaran Islam terus memaripurnai setiap sikap mereka.
Sebagai pendekatan kebersamaan adalah alternatif agar mereka tidak terjun ke perbuatan yg sama sekali tidak mencerminkan akhlak yang tak terpuji.

Dengan kebersamaan seperti ini akan lahir komunikasi yang baik. Akan lahir motivasi dari senioritas ke adik kaderisasi untuk diarahkan, dituntun ke yg lebih baik, tentunya.

Semoga usaha ini tdk saja menginspirasi kalangan muda; khususnya mahasiswa, tetapi juga kalangan tua yg lebih mendahului kita, termasuk di sini dari segi umur lebih mengenal pendidikan terlebih dahulu dari pada kami.

Tuesday, September 24, 2019

Jadikan Buku Sebagai Kawan Kita


Buku bagian tak terpisahkan. Umumnya, buku seringkali dianaktirikan. Bagi kebanyakan orang, membaca buku adalah menjenuhkan. Tetapi tidak demikian bagi saya, buku memberikan spirit dan memerdekakan.

Banyak orang yang meresa merdeka padahal dirinya sedang dijajah. Karena belum merdeka maka ruang gerak mereka tetap sempit. Bukan dijajah dalam kontek negara, tapi yang menjajah mereka adalah kebodohan.

Banyak orang selalu merasa resah, menganggap orang lain salah sementara dirinya merasa benar. Perang saudara selalu hidup. Mereka tidak maju-maju seperti negara lain yang tiap hari memikirkan kemajuan, dengan menyusun teori kemudian mereka kembangkan menjadi ilmu pengetahuan, lalu mereka sumbangkan kepada dunia. Sementara kita sebagai konsumen. Disebabkan cara berfikir kita yang selalu dipersempit oleh kebodohan itu kita bukan memikirkan bagaimana cara kita berubah, tetapi dengan apa mereka bisa kalah.

Orang yang kesehari-hariannya selalu bersama buku maka dia tidak mudah menjadikan siapapun di sekitarnya serba musuh, yang tentu serba salah. Dengan cinta, mereka akan berfikir bahwa persatuan adalah bagian dari norma dan spirit agama. 


Buku itu harus jelas gurunya. Oleh karena guru sangat penting tidak hanya transfer knowledge, tapi akhlak.

Ayo gabung dengan kami bedah buku.


(*)

Tuesday, September 17, 2019

Resensi Radar Sampit: Mendidik Anak Harus Dengan Cinta



Mendidik Anak Harus Dengan Cinta

Judul Buku: Mendidik Dengan Cinta
Penulis: Evi Ghozali
Penerbit: Prenamedia Group

"Mendidik Dengan Cinta" adalah tema yang sangat pas yang diangkat buku ini. Sebab pendidikan berbasis cinta relatif jarang ditemukan, baik di sekolah maupun dalam keluarga. Orang tua, dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih, kini menjadi super sibuk dengan smartphone daripada memperdulikan anak-anaknya. Lebih parah lagi, orang tua lebih terkesan suka memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya agar mereka dapat melakukan seperti yang diinginkan orang tua, tanpa perhatian cinta sedikitpun.

Melalui buku ini, penulis akan berbagi informasi tentang model pendidikan yang baik terkait keluhan para orang tua atau guru yang merasa dirinya telah kehabisan ide dan strategi dalam mendidik anak-anaknya agar mereka kelak menjadi anak yang baik, berbakti dan menyayangi kedua orang tua, pendidikan yang dimaksudkan yaitu mendidik dengan cinta. Banyak orang tua atau guru di sekolah yang salah kaprah dalam mendidik siswa-siswinya. Sehingga, siswa-siswi merasa cepat bosan, yang pada gilirannya pendidikan tidak berjalan sesuai rencana dan harapan bersama.

Jika pendidikan hanya mengajarkan kecerdasan intelektual (ta'lim) dan mengesampingkan pendidikan yang esensial yaitu emansipatoris (tarbiyah) yang membebaskan dan memanusiakan manusia  maka kemungkinannya pendidikan yang seharusnya menomorsatukan karakter dan moralitas luhur malah menghasilkan produk gagal.

Sebab, apa bila pendidikan yang diimbangi dengan ilmu akhlak besar harapan akan mudah membina anak-anak yang memiliki, tidak hanya sekil, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang beguna bagi bangsa dan negara.

Orang tua seharusnya mampu, tidak hanya menyuruh, tetapi juga menjadi cerminan yang baik di dalam keluarganya. Kebanyakan orang tua telah bermaksud ingin berbuat baik seperti menasihati dan mendidik dengan terlalu keras, namun kemudian ditanggapi oleh anak sebagai sebuah kejahatan.

Hal tersebut diperparah dengan ketidakefektifan komunikasi dalam keluarga. Kecanggihan teknologi dan perkembangan zaman menyebabkan komunikasi dalam keluarga makin berkurang. Kurangnya komunikasi serta bentuk perhatian yang salah dari orang tuanya sehingga timbul sikap melawan dan memberontak (hlm. 54).

Evi sendiri membenarkan bahwa tidak ada orang tua manapun yang berkeinginan menjerumuskan putra-putrinya kepada kejahatan. Para orang tua berupaya mendidik anak-anak agar menjadi manusia yang saleh, berbakti kepada kedua orangtuanya, agama dan negara. Tetapi orang tua terkadang terkesan suka memaksakan sementara pendidikan cinta mereka belum sepenuhnya diimplementasikan.

Perlu diketahui bahwa, cinta sejatinya mampu memberikan peristiwa-peristiwa besar. Seseorang yang sedang diliputi cinta biasanya mampu untuk berkorban demi yang dicintainya. Namun dalam perkembangan jiwa seseorang, seringkali cinta itu disusupi oleh banyak keinginan egoisme yang justru menyebabkan cinta menjadi redup, dikalahkan oleh kepentingan dan ambisi pribadi yang bertentangan dengan cinta itu sendiri.

Menurut Evi, para orang tua perlu belajar memahami dan merawat cinta itu agar terjaga ketulusannya. Orang tua hebat mereka yang mampu mengimbangi antara kesibukannya dari pekerjaannya dan kepeduliannya terhadap keluarganya, dalam hal ini anak-anaknya. Ketika orang tua telah membangun komunikasi yang baik dengan anak-anaknya, kemungkinan besar mereka merasa nyaman dan diperhatikan dengan cinta, sehingga anak-anak tidak akan merasa bosan terhadap kedua orang tuanya.

Sementara itu, ketika pendidikan cinta telah redup, maka kemungkinannya anak perlahan mulai mencari perhatian dari pihak lain. Ini bisa menjadi awal mula masalah apabila anak keliru mencari perhatian dari orang lain selain orang tuanya (hlm. 47-49).

Pada saat yang sama, karena orang tua tidak bisa mengawasi anak selama 24 jam nonstop, maka membaca buku ini penting, karena di dalamnya memberikan solusi bagaimana cara mendidik anak yang baik yang berbasis cinta tersebut. Seperti apakah solusinya itu? Anda akan menemukannya setelah membaca buku ini. (*)

Sunday, August 11, 2019

IBADAH KURBAN, WUJUD SOLIDARITAS SOSIAL

Dimuat di Santri News Jatim
Oleh: Ashimuddin Musa*

Setiap tahun, umat Islam merayakan hari besar Islam, yaitu hari raya Idul Adha. Ada pula yang menyebutnya hari ini sebagai hari kurban. Sebab, di hari yang berkah ini kaum muslimin melakukan ritual kurban sebagai serangkaian pengabdian kepada Allah SWT. yang memiliki dimensi ibadah murni dan juga dimensi kemanusiaan. Dengan kata lain, hubungan horizontal merupakan salah satu faktor terjalinnya hubungan vertikal secara baik.

Kurban, dari asal kata qarabah berarti dekat. Dengan demikian, ibadah kurban adalah sarana untuk mendekatkan diri hamba terhadap Allah, Tuhan pencipta langit dan bumi beserta seisinya. Oleh sebab itu, penting bagi kaum muslimin memperhatikan betul makna kurban ini.

Artinya, ibadah kurban bukan sekadar sebagai ibadah seremonial yang hanya dirayakan tiap tahun sekali, kemudian melupakannya di kala semua telah selesai. Hakikatnya kurban memiliki makna substantif yang sarat nilai yang harus dihayatinya.

Allah SWT tidak memandang hamba dari sudut pandang ketampanan, kekayaan, serta kemiskinannya. Tidak pula karena besarnya dosa-dosa yang telah dikerjakan. Mereka semua berhak berkontestasi mengerjakan yang terbaik dalam menjalankan amal ibadahnya.

Tugas hamba hanya untuk beribadah dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Adalah bukan wewenang hamba menilai Hitam-Putih amal tiap-tiap individu. Pada gilirannya, mereka saling menyesatkan satu sama lain. Adalah ada pada hak prerogatif Allah SWT wewenang memberikan penilaian baik-buruknya tiap-tiap amal hamba tersebut.

Dalam kaitannya dengan berkurban, Allah SWT tidak menilai besarnya hewan yang disembelih yang dipersembahkan untuk berkurban. Tidak lebih memikat hati persembahan kurban sapi seseorang yang gemuk dari sekadar berkurban kambing. Demikian juga, tidak lebih hina orang-orang yang beriman dan belum mampu berkurban di tahun ini. Karena perintah kurban dikhususkan bagi mereka yang mampu untuk bisa berbagi.

Perintah kurban adalah sebuah anjuran bagi yang mampu yang harus dilakukan dengan ikhlas, bukan dalam rangka pamer kemewahan, yang terkadang keikhlasan bisa hilang. Dalam hal ini, tentu kita harus menghindari diri dari rasa riya' dan mutivasi yang bisa merusak pahala kurban yang dilakukan.

Allah SWT berfirman, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak mencapai (keridlaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikian Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik". (QS. Al-Haj (22): 37).

Ayat ini memerintahkan agar dari setiap  orang tidak sampai menyombongkan diri sendiri. Setiap dari persembahan kurban harus dilakukan berdasarkan pada keikhlsan hati. Dari sini cukup jelas, dengan penuh keikhlasan dan senang hati menunaikan ibadah kurban maka Allah memberikan persembahan kurban seseorang dengan predikat cumlaude (memuaskan).

Sebaliknya, Allah SWT tidak melihat besarnya persembahan dari kita manakala rasa ikhlas dapat berkurang dari setiap hamba. Seperti dijelaskan di atas, besarnya hewan kurban kita tidak menjamin bahwa pahala kita cukup besar dari mereka yang hanya berkurban dengan kambing. Namun demikian, berkurban yang dilandasi rasa ikhlas serta ketakwaan kepada-Nya adalah sangat diutamakan, apalagi hewan yang dikurbankan adalah sapi atau unta.

Pesan moral dari pelajaran kurban ini adalah upaya kita belajar mengikhlaskan diri dari setiap pengorbanan hewan kurban. Dengan perasaan susah mengeluarkan hewan kurban adalah untuk mengetahui seberapa besar kekuatan ikhlas kita. Selain itu, Islam menganjurkan umat agar menjalankan hidup damai, berkeadilan serta memahami dan menghayati arti penting solidaritas.

Melalui perintah kurban, jelas sekali rejeki yang ada pada mereka tidak lain sebagai titipan Tuhan Yangang Maha Esa. yang harus disebarluaskan atau dibagi-bagikan kepada orang yang berhak mendapatkan. (*)

Thursday, August 8, 2019

Resensi Harian Analisa: Sejarah Politik Wali Songo di Nusantara


Dimuat di Harian Analisa edisi Jum'at, 9 Agustus 2019

Wali Songo selalu menjadi topik hangat yang terus diperbincangkan dalam kajian sejarah Islamisasi Nusantara. Sebagian mereka ada yang mendukung sebagian lagi menolaknya. Mengapa mereka menolak? Menurut Agus Sunyoto, penulis buku ini, karena bagi mereka sejarah adalah hanya  hasil konstruksi para elite pemenang. Sebuah argumentasi kontroversial.

Sebagai bentuk penolakannya, terbit beberapa buku sanggahan terhadap sejarawan yang mendukung keberadaan peran Wali Songo ini. Di antaranya tulisan Sjamsudduha berjudul "Walisanga Tak Pernah Ada?" Yang berisi asumsi-asumsi argumentatif yang menjelaskan bahwa Wali Songo tidak pernah ada. Kemudian, gugatan lain juga muncul dari sekelompok intelektual yang tulisan-tulisannya mengingkari keberadaan Wali Songo dari ranah sejarah. Tulisan-tulisan tersebut dikodifikasi dalam Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve.

Buku Atlas Wali Songo yang ditulis oleh Agus Sunyoto adalah buku pertama yang mengungkap Wali Songo sebagai fakta sejarah. Di dalamnya diuraikan bukti-bukti faktual terkait sejarah berkembangnya Islam di Nusantara dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian. Melalui proses jangka panjang akhirnya buku ini diterbitkan oleh penerbit pustaka IIMaN bekerjasama dengan LESBUMI PBNU, yang saat ini sudah memasuki cetakan ke VIII.

Agus Sunyoto dalam buku ini memberikan peta perjalanan para pendakwah Islam yang dibawa oleh kaum muslimin dari Arab, India dan China melalui kontak perdagangan. Dari sini, para pedagang muslim, selain ada tujuan untuk berdagang ke kawasan Asia Tenggara, mereka juga memiliki gairah (spirit) serta komitmen yang kuat untuk menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar dengan keteladanan moral, kasih sayang, kedermawanan, toleransi, pendekatan persuasif, dan penampilan beberapa karamah (hlm. 47).

Islam yang dipromosikan Wali Songo adalah Islam rahmatan lil alamin: sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dalam dakwah, mereka tidak mengesampingkan etika Islam.  Etika Islam yang dimaksudkan adalah mengajarkan kesejukan, keadilan, damai, emansipatoris, toleransi, dan tidak membenci.

Dengan keteladanan moral, di samping karamah-karamah yang dimilikinya, menjadikan Islam begitu melekat dalam kehidupan penduduk Nusantara yang sudah mengalami proses Indianisasi. Pun demikian, mengembangkan pemahaman yang sepakat untuk mendamaikan dunia keilmuan dengan dunia politik serta spiritualitas guna membangun peradaban Islam sehingga cocok dengan kondisi bangsa yang majemuk.

Dengan tidak menyertakan nama-nama para wali di dalam buku sejarah islamisasi Nusantara dengan pertimbangan berbeda faham dan aliran, tindakan seperti inilah, selain melakukan distorsi dan pemelintiran terhadap kebenaran faktual, juga mengakibatkan perpecahan karena pesan yang disampaikannya tidak lagi objektif, tetapi sudah bercampur dengan kepentingan politik kelompoknya.

Usaha penghapusan Wali Songo dalam penyebaran Islam di Nusantara, menurut Sunyoto, tidak bisa ditafsirkan lain kecuali merupakan usaha-usaha sistematis dari golongan minoritas untuk membasmi paham mainstream Islam Nusantara dengan cara menghapuskan keberadaan Wali Songo dari konteks sejarah

Saturday, July 27, 2019

SUKARNO PEMIMPIN (YANG) HUMANIS

Dimuat di Harian Kabar Madura EDISI 23 JULI 2019

Judul: Membaca Sukarnu dari Jarak Paling Dekat
Penulis: Eddi Elison
Penerbit: Penerbit Imania
Edisi: April 2019
Tebal: 307
ISBN: 978-602-7926-49-3


Sosok Sukarno (Bung Karno) tidak diragukan lagi merupakan salah satu di antara sedikit orang yang berpengaruh dalam mewujudkan impian besar bangsa Indonesia.  Sebagai seorang tokoh besar ia punya banyak hal yang menarik untuk diperhatikan, bahkan sampai hal-hal terkecil tentangnya.

Di antara beberapa buku yang menceritakan kehidupan Bung Karno, sejauh ini belum ada buku yang secara spesifik membahas sampai hal-hal yang paling kompleks tentangnya. Sehingga, buku dengan tema "Membaca Sukarno dari Jarak Paling Dekat" sudah sepatutnya diapresiasi karena melengkapi kekosongan itu.

Buku Eddi Elison ini merupakan karya mutakhir yang berbicara tentang kehidupan sosok presiden pertama Indonesia dari jarak yang sangat dekat. Di sisi lain, Elison pernah menjadi reporter TVRI yang bertugas di Istana untuk meliput aktivitas Presiden Sukarno hampir selama empat tahun (1962-1966 M). Tentu, karyanya memiliki distingsi yang sekaligus kekuatan pokok, yaitu penekanan yang kuat pada objektivitas kehidupan Bung Karno.

Humanisme -tegas Try Sutrisno- tidak bisa dilepaskan dari perilaku. Bukan saja perilaku individu, tetapi juga kelompok, bahkan institusi. Seseorang yang hidup dalam lingkungan keluarga atau kelompok yang taat beribadah, punya pemahaman keagamaan yang benar, besar harapan akan lahir keluarga yang bisa dibanggakan. Pun demikian sebaliknya. Sebab, karakter terbentuk pada individu atau entitas dalam proses hidup individu atau entitas tersebut (hlm. 18).

Jika dirujuk pada sumber primer ummat Islam -Alquran dan Hadis- jelas sekali keduanya menekankan pentingnya humanisme. Sebagai sebuah ajaran, Islam dikenal sangat humanis, bahkan konsep tauhid tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan sosialnya. Sayangnya, masyarakat -sampai batas tertentu- belum bisa mencerminkan ajaran yang humanis dan menekankan nilai-nilai sosial ini tidak nampak kental dalam kehidupan umat muslim.

Setiap pemimpin hendaknya bisa menjadi  teladan yang baik bagi bangsanya. Sebab, kondisi mental pemimpin bangsa bisa dipastikan berpengaruh terhadap mental rakyat yang cenderung intoleran. Usaha menjadi teladan yang baik inilah betul-betul sudah diupayakan oleh Bung Karno untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya.

Dengan bekal keislamannya yang kuat, ia menyadari sepenuhnya bahwa agama Islam berdiri kuat di atas dasar perikemanusiaan, berupa kepedulian mendasar terhadap sesama dan segala makhluk ciptaan Allah.

Sebab itulah, ketika dirinya terpilih sebagai presiden RI yang pertama, dengan humanisme Bung Karno yang cukup besar sehingga ketika para petinggi merumuskan Pancasila sebagai ideologi negara, maka dirinya memasukkan humanisme pada sila kedua, yang memenuhi UUD 1945; "Kemanusiaan yang adil dan beradab" (hlm. 16).

Buku ini menarik sekali dibaca oleh siapapun untuk menambah wawasan dan renungan. Selama ini ia hanya dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, melalui buku ini kita menjadi tahu bahwa dirinya juga memiliki beberapa cerita unik dan menginspirasi.

Sayang, beberapa tulisan di dalam buku ini seringkali ditemukan salah ketik dan bercampurnya antara tulisan satu dengan yang lain, yang memerlukan perbaikan. Tetapi, dalam hal memanjakan pembaca, penerbit berhasil menghadirkan buku ini dengan kemasan menarik, mulai dari sampul hingga layout isinya.

Tuesday, July 16, 2019

CARA KIRIM RESENSI KE HARIAN KABAR MADURA



Di beberapa media saat ini, baik di media cetak atau online, mulai banyak bermunculan nama-nama kontributor baru yang menyumbangkan kontribusinya terhadap media, kami ucapkan semangat. Sebab, telah ikut serta berkontribusi dalam menyalurkan keilmuannya terhadap media, terutama -dan ini pasti sangat membantu- terhadap dunia pendidikan. Salahsatunya adalah RESENSI.

Menulis resensi -seperti ditulis Ustad Habibullah Salman, guru di SMA Annuqayah- merupakan sebuah pembacaan kita pada buku yang kita miliki. Sering saya disuguhkan pertanyaan-pertanyaan oleh sahabat-sahabat saat saya di pesantren Annuqayah dulu: bagaimana agar ketika membaca buku bisa memahami dan mudah diingat?

Secara personal saya mengalami gejala seperti yang ditanyakan sahabat-sahabat kepada saya: susah memahami buku, apalagi sampai mengingatnya, saat awal belajar mencintai buku.

Ternyata, untuk bisa mengingat buku dan -barangkali- bisa mengingat pesan moral dari isinya -hemat saya- MERESENSI: Meresensi membantu kita memahami isi buku dan mengingatnya. Tidak yakin? Coba saja.

Ok. Sahabat-sahabat yang sudah siap mau menyumbangkan tulisannya ke media Harian Kabar Madura, berikut caranya:
1. Tulis alamat email Kabar Madura (kabarsastrabudaya@gmail.com)
2. Isi pada kolom sabjek: RESENSI_JUDUL RESENSI.
3. Isi surat pengantar dengan bahasa yang baik untuk memikat redaksi sehingga tukisan anda dapat dimuat.
4. Sertakan pula kutipan halaman bukunya.
5. Naskah RESENSINYA lampirkan. Jangan ditulis di papan email.
Contoh Surat Pengantat Simpel di Badan Email



Biasanya, ada sebagian media yang menyarankan menyertakan foto KTP dan -ini tentu ada, hehe- cover buku terkait. Namun, sepengalaman saya, di Kabar Madura, cukup menyertakan foto cover bukunya saja. Semoga artikel ini membantu (*).

Kalau ada pertanyaan silakan ajukan di laman komentar.

Rangkuman 40 Hadis NU


Judul Buku: 40 Hadis NU
Penulis: M. Ma'ruf Khazin
Penerbit: PW LTNNU Jawa Timur
Tahun Terbit: Februari 2019
Tebal Halaman: xiv+46 halaman
ISBN: 978-602-50207-7-3
Resensi ini telah dimuat di NU Online Jakarta.

Dinamika keilmuan Islam hari ini selalu berbicara hadis. "Apakah yang anda bicarakan ada hadisnya?" Jika ada, maka anda yang memenangkan diskusinya. Jika tidak ada, maka tuduhan bid'ah dan anggapan menambah-nambahkan harus siap anda terimanya. Pernahkah anda melihat seseorang -atau segolongan umat muslim- yang sedikit-sedikit bicara bid'ah karena amaliahnya berbeda dengan amaliah mereka?

Ketika globalisasi yang dibawanya kian memasuki sendi-sendi kehidupan, maka apa-apa yang awalnya sulit kini telah menjadi tanpa batas. Setiap orang dapat berkomunikasi dengan orang lain secara mudah, meski dengan jarak yang relatif jauh.

Kalau dulu harus berjam-jam untuk sampai ke suatu tempat, sekarang sudah bisa dilalui dengan waktu yang relatif singkat. Karena itu, modernitas telah mengubah pola komunikasi yang dibatasi oleh ruang dan waktu menjadikan pola konsumsi informasi tanpa batas.

Coba anda saksikan saat ini, sudah banyak orang-orang yang telah menggunakan teknologi. Tua maupun muda. Fahrur Rozi dalam Jawa Pos Radar Madura, "Berpuasa Media Sosial" pada, 23 Mei 2019 menulis bahwa, dalam analisis we are sosial Hootsuite menyebutangka 150 juta jiwa atau 56% dari populasi penduduk Indonesia.

Lewat riset yang dirilis pada Januari 2019 tersebut, ditemukan juga bahwa pengakses media sosial lewat ponsel 130 juta jiwa. Ini menandakan bahwa pengakses melalui ponsel -sampai batas tertentu- jauh lebih banyak ketimbang lewat laptop maupun komputer.

Dari analisis di atas, benar apa yang dituturkan Rozi bahwa besarnya data ini menunjukkan bahwa media sosial kita memiliki banyak penghuni. Dari media ini seringkali terjadi cekcok antara yang satu dengan yang lain.

Pun demikian, pemelintiran data seringkali ditemukan di media sosial ini. Karena itu, Prof. KH. Abd. A'la Basyir menegaskan agar kaum muslim harus bersatu padu dan menyatukan langkah untuk menentukan agenda transformatif yang menjadikan bangsa benar-benar berdaya, tidak kehilangan jati diri, dan memiliki daya saing tinggi dalam era globalisasi ini.

Di era globalisasi ini penting kiranya ada tindak lanjut penyelamatan terhadap agama maupun akidah sempalan yang terkadang memanfaatkan teknologi. Untuk membentengi diri kaum muslimin, maka diperlukan strategi dakwah sebagai upaya membentengi agama dan aqidah dari pemahaman yang tidak sesuai dengan akidah yang benar.

Era modern saat ini cukup signifikan bagi kalangan tertentu yang tidak suka pada NU untuk menggoyangkan pemahaman anggota NU (NU kultural) dengan bumbu-bumbu yang sangat rapi dengan dibungkus agama. Mereka ini menjadikan teknologi informasi sebagai instrumen memasarkan dagangannya. Mereka mengajak kembali kepada Alquran dan Hadis, kemudian dengan jumawa mengafir-syirikkan kelompok lain; merasa paling intelek hanya dengan mengutip satu dua baris pendapat; hanya tahu sangat sedikit tentang jauh lebih sedikit hal, tapi merasa tahu banyak tentang sangat banyak hal.

KH. Hasyim Asy'ari, dalam muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama, menyampaikan bahwa ada suatu golongan yang dengan sengaja terjun ke lautan fitnah dan mereka melakukan bid'ah di luar Sunnah Rasulullah Saw. Walaupun demikian, orang mukmin yang tahu akan kebenaran, bersikap diam dan tidak bergerak memberantas perbuatan bid'ah tersebut.

Maka, golongan ahli bid'ah dengan seenaknya saja memutar balikkan kenyataan atau kebenaran. Yang baik dilingkari, yang mungkar dijalani. Mereka ahli-ahli bid'ah tersebut kelihatannya mengajak kembali ke Alquran, akan tetapi sebenarnya mereka sendiri tidak berbuat demikian...dengan demikian bertambah besarlah debu kegelapan sehingga orang-orang yang tidak menerima Taufik dan hidayah Allah akan tertarik oleh gerakan mereka.

Kehadiran buku kecil ini datang di saat-saat yang sangat tepat karena hadir dalam konteks di mana tradisi menyambung sanad keilmuan agaknya kurang begitu diperhatikan akhir-akhir ini. Banyak orang-orang sudah melupakan guru yang pertama kali mengajarkan alif sampai ya' dan lebih memilih ustad-ustad yang tiba-tiba muncul di layar kaca (medsos).

Ternyata, amaliah NU memiliki banyak dalil hadis, dan ini diamalkan oleh umat Islam di berbagai dunia. Buku ini merangkum 40 hadis sahih yang menjadi dalil akidah dan amaliahnya orang NU, bahkan cinta tanah air. Karena itu, buku ini tidak sekadar menarik, tetapi juga penting (*).

Friday, July 12, 2019

GAMBARAN UMUM DESA PAKAMBAN (DAYA DAN LAOK) SERTA SEJARAH MASUKNYA HNI HPAI


BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A.    Gambaran Umum Desa
Secara umum, Pakamban terdiri atas dua wilayah: Desa Pakamban Daya dan Desa Pakamban Laok. Masing-masing dengan karakter serta tradisi masyarakatnya yang relatif tidak jauh berbeda. Sebagaimana kehidupan di perkotaan, terkadang cendrung hidup sendiri-sendiri, ekslusif, tertutup dari yang lain, kehidupan di desa masih mencerminkan kehidupan dengan spirit solidaritas dan sosialisme yang tinggi. Hal itu karena—baik Desa Pakamban Daya maupun Desa Pakamban Laok—keduanya secara mentradisi sudah hidup bersosial, hidup sederhana dan pekerja keras.
Soal hidup malarat (sederhana), orang-orang Pakamban bisa dikatakan cukup tangguh. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi banyak dari mereka yang terbiasa dengan kehidupan ala kadarnya (hidup sederhana) tanpa harus banyak mengeluh, sehingga tidak mudah menyerah dan memilih-milih pekerjaan pada saat menemukan pekerjaan. Mereka lalui saja sepanjang tidak merugikan.
Orang-orang Pakamban—baik Pakamaban Daya dan Pakamban Laok—sangat kental dengan keislamannya. Selain itu, mereka juga punya kebiasaan pergi ke sawah di pagi buta. Sebelumnya, mereka sudah terbiasa melaksanakan shalat subuh berjemaah. Alasannya klasik, pergi bekerja sepagi mungkin yang kemudian diiringi dengan penguatan spiritualitas merupakan keharusan yang harus berjalan seimbang. Selanjutnya, waktu pagi dinilai potensial oleh mereka karena—menurut keyakinan mereka—Allah Swt mencairkan rejeki-Nya untuk umat sepagi mungkin. Subhanallah, begitu giatnya masyarakat Pakamban, sehingga antara kegiatan spiritual seperti kegiatan berjemaah subuh dan spirit pergi bekerja sepagi mungkin telah tertanam kuat di hati mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan titik lanjut dari kajian sebelumnya, yang secara panjang lebar telah menguraikan hakikat temuan kami terkait makanan halal dan thayyib bagi kesehatan mental pengonsumsi, itu pun disampaikan secara universal. Dalam penelitian ini, penelis akan mencoba lebih memperkenalkan Pakamban beserta sejarah berkembangnya pemasaran produk herbal HNI HPAI, sehingga persaksian pengguna atas manfaat produk bagi kesehatan konsumen, khususnya konsumen Pakamban, tempat penelitian ini dilakukan, yang kemudian menjadi cikal-bakal berkembangnya HNI HPAI yang besar sebagaimana lahirnya BC 2 HNI HPAI Sumenep hari ini. Bagaimana apresiasi masyarakat Pakamban atas produk HNI HPAI.
Dari adanya kekuatan spiritual masyarakat Pakamban, tentu bukanlah hal mudah bagi mereka menerima secara sederhana atas produk-produk baru yang kualitas belum tentu menjamin kesehatan. Pun demikian, kualitas sangat bagus dan terbukti ampuh atasi berbagai macam penyakit, tetapi proses yang dihasilkan dari produk ini adalah dari sesuatu yang secara mendasar bertentangan dengan prinsip syariat Islam.Penulis ambil contoh, di HNI HPAI ada obat yang mampu atasi penyakit yang biasa dialami para wanita, yaitu haid tidak lancar, keputihan, kista, dan hamil tidak kunjung muncul. Sudah menjadi kebahagian bilamana telah ada kabar bahwa ada jamu yang mampu atasi penyakit seperti ini. Kehadiran bayi adalah kebahagiaan besar bagi seorang ibu yang lama tidak punya anak. Ia bahkan rela mengeluarkan relatif banyak uang demi terwujudnya momongan. Dengan demikian, jika penyakit yang diderita itu sudah parah sebagaimana contoh ini, maka “mahal” bagi mereka sudah menjadi “murah”. Sebab itu, mereka menjadi bersedia mengeluarkan uang banyak yang sedari awal disimpan baik dan rapi di dalam rak (celengan mereka), ketika penyakit yang dideritanya sudah parah, maka keadaan sudah berubah, saat itu menjadi dikeluarkan demi atasi penyakitnya—meskipun itu mahal.
Kuatnya keimanan tidak sembarang menerima secara mudah terbuka atas makanan dan minuman yang diharamkan oleh Allah. Makanan yang halal adalah anjuran yang harus ditegakkan. Pun demikian dengan makanan yang haram, harus sesegera mungkin untuk disingkirkan. Maka, keunggulan masyarakat Pakamban yang seperti inilah—hemat kami—menarik untuk diangkat dalam penelitian ini. Bagaimana HNI itu terus tumbuh besar di daerah ini. Sebelum HNI sudah pernah ada produk sejenis yang diklaim herbal, tetapi mengapa hanya HNI HPAI yang tetap eksis dan terus besar—sementara produk yang lain yang sejenis herbal kandas tidak terus besar—ketika dipasarkan di daerah tersebut. Penulis tidak hendak membicarakan penyebab kekandasan tersebut, sebab penelitian ini lebih fokus pada pengaruh makanan halal dan thayyib. Dan, apakah HNI adalah sudah pas bagi mereka hingga terus bertahan hingga detik ini, inilah yang akan penulis perdalam dari sejarah berkembangnya HNI HPAI di daerah Pakamban di BAB III ini.
Secara garis besar, Pakamban ada dua, yaitu Pakam Daya dan Pakamban Laok. Pakamban daya terdiri atas 7 (tujuh) dusun dengan 16 rukun tetangga (RT) yang meliputi[1]:
1.      Dusun Panggung terdiri atas dua rukun tetangga (RT).
2.      Dusun Tengger terdiri atas dua rukun tetangga (RT).
3.      Dusun Preng Taleh terdiri atas dua rukun tetangga (RT).
4.      Dusun Bakburu terdiri atas dua rukun tetangga (RT).
5.      Dusun Telaga terdiri atas dua rukun tetangga (RT).
6.      Dusun Prang Alas terdiri atas dua rukun tetangga (RT).
7.      Dusun Tambak Sari terdiri atas satu rukun tetangga (RT).
8.      Dusun Gunung Bunter terdiri atas dua rukun tetangga (RT).
 Dari total keseluruhan dusun ini terdapat 10 (sepuluh) masjid dan mushaalla[2]. Umumnya, masjid dan mushalla di daerah ini digunakan untuk tempat mengaji, seperti di masjid Baitussalam dusun Prang Alas, mushalla al-Mabrur[3] Namira dusun Prang Alas, mushalla al-Maghfur dusun Bakburu Laok, dan masjid di dusun Laok Leke. Ada pula pendidikan dengan model pesantren. Beberapa siswa oleh walinya dipasrahkan ke pengasuh agar belajar di pesantren. Tentu, pendidikannya meniru gaya pendidikan pesantren. Sudah ada tiga pesantren di desa Pakamban Daya ini: pesantren Agung Damar, pesantren Darul Ihsan, dan pesantren Panggung. Sementara di Pakamban laok relatif lebih sedikit, sekitar ada dua mushalla, satu masjid dan satu pesantren.
Dengan demikian, orang-orang Pakamban—menurut pembacaan kami—di samping sebagai pekerja keras, mereka sangat antusias terhadap pendidikan. Sebab itulah, Pakamban tidak diragukan lagi sebagai desa yang diberkahi.
B.     Sejarah berdirinya HNI HPAI.
1.      Sekilas berdirinya HNI HPAI
Halal Network Internasional (HNI) merupakan perusahaan muslim yang kometmen untuk menyediakan produk-produk obat-obatan herba yang halal dan berkualitas terbaik yang berasal dari bahan-bahan alami yang banyak tumbuh di bumi Indonesia.
Dalam banyak riwayat sejarah Islam, dinyatakan bahwa pertama kali yang dibangun oleh umat Islam di Madinah setelah Masjid adalah pasar. Berbeda dengan Masjid, di mana saat itu di Madinah memang belum ada Masjid. Saat itu telah ada beberapa pasar milik orang Yahudi. Namun menurut Rasulullah, pasar seperti itu bukan pasar bagi umat Islam. Sehingga Rasulullah memerintahkan para sahabat, terutama bagi mereka yang telah memiliki kemampuan dalam berniaga seperti: Abu Bakar, Umar Usman, Abdurrahman bin Auf untuk mempelopori berdirinya pasar ummat Islam.[4]
Sejak itulah ummat Islam memiliki pasar di Madinah yang penuh dengan nilai-nilai keislaman. Pasar yang berasal dari ummat Islam, oleh ummat Islam, dan dari ummat Islam. Sejak saat itu, perekonumian ummat Islam menjadi meningkat pesat. Hal ini dijadikan sebagai modal untuk membangun Madinah.
HNI HPAI merupakan perusahaan yang mempelopori kebangkitan pasar ummat Islam masa kini, dengan menyediakan produk-produk herba yang halal dan berkualitas, di tengah kondisi terdapat banyaknya pilihan obat-obat di masyarakat. Prduk yang disediakan HNI juga merupakan solusi dari berbagai kebutuhan ummat Islam.
Adapun misi dari perusahaan HNI HPAI adalah menjadikan perusahaan multi level marketing syari’ah terbesar di Indonesia dan menjadi penggerak terciptanya perekonomian ummat Islam, memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas, serta membutuhkan insan yang profesional dengan memanfaatkan teknologi yang maju serta bertakwa kepada Allah Swt.
2.      Masuknya HNI HPAI ke Pakamban
Semula, HNI HPAI diperkenalkan oleh salahseorang yang bernama Ach. Faizi, yang ia peroleh dari Riza Anami (dosen di salah satu perguruan tinggi di Sumenep Madura), dibawa ke kampungnya, dusun Kacangan, desa Pakamban Laok, Pragaan, Sumenep, pada hari Minggu, 17 April 2016. Pertama kali memperkenalkan HNI tidaklah mudah tentunya. Di samping kehati-hatian masyarakatnya menerima produk baru, juga kehidupan yang minimalis (sederhana) membuatnya susah memperkenalkan HNI berkembang di dusun tersebut.
Berkat tekad dan semangatnya ia tidak mudah menyerah—meski di awal ia mulai kecewa dan ada inisiatif untuk berhenti. Sebagai upaya menjadi orang sukses ia tentu sadar, bahwa menjadi sukses butuh perjuangan dan kerjakeras untuk mewujudkan itu. Oleh karena itu, keinginan yang semula berusaha ingin mundur kemudian ia alih menjadi terus bertempur. Sebab baginya, sukses itu pilihan. Hanya orang gila yang ingin memperoleh hasil yang sama dengan pola yang berbeda.
C.     Produk-produk HNI HPAI.
HNI HPAI terdiri atas herbs product (produk herbal), health food dan beverage, cosmetic dan home care dan tools marketing.
1.      Produk Herbal
a.       Andrographis Centella
b.      Bilberry.
c.       Biosir.
d.      Carnocap.
e.       Deep Squa.
f.       Diabextrac.
g.      Gamat Kapsul.
h.      Ginextrac
i.        Habbassauda.
j.        Harumi.
k.      Langsingin.
l.        Laurik.
m.    Magafit.
n.      Mengkudu Kapsul.
o.      Minyak Herba Sinergi.
p.      Mustika Dara.
q.      N-Green
r.        Pegagan HS.
s.       Procumin Habbatus Sauda.
t.        Procumin Propolis.
u.      Rosella HS.
v.      Siena.
w.    Spirulina.
x.      Truson.
2.      health food dan beverage
a.      Centella Teh Sinergi.
b.      Dates Syirup.
c.      Deep Olive.
d.     Etta Goat Milk.
e.      Extra Food.
f.       HPAI Coffee.
g.      Jannatea Cold.
h.      Jannatea Hot.
i.        Kopi 7 Elemen.
j.        Madu Asli Multiflora.
k.      Madu Asli Premium.
l.        Madu Pahit.
m.    Madu SJ.
n.      Minyak Zaitun.
o.      Sari Kurma.
p.      Stimfibre.
3.      Cosmetic dan Home Care.
a.       Beauty Care Set.
b.      Beauty Day Cream.
c.       Beauty Night Cream.
d.      Green Wash Detergent.
e.       Green Wash Softener.
f.       Hibis.
g.      Paper Daily Freshener.
h.      Pasta Gigi Herbal.
i.        Promol 12.
j.        Sabun Kolagen Transparan.
k.      Sabun Propolis Transparan.
4.      Fashion dan Lifestyle.
a.       Alquran Asy-Syifaa.
b.      Alquran Bukhara HNI.
c.       Mukena HNI.
d.      Hijab HNI.
e.       Sarung HNI.
5.      Tools Marketing.
a.       Brosur Produk.
b.      CD Album 2 Maidany.
c.       Paket Support Syistem.
D.    keunggulan HNI HPAI.
1.      Herba Penawar al-Wahida Indonesia (HPAI) memiliki visi dan misi yang luhur.
2.      HPAI memiliki kometmen menghasilkan produk yang halal dan thayyib.
3.      HPAI milik muslim.
4.      HPAI memiliki marketing plan yang memenuhi prinsip keadilan atau ihsan dan jual beli sesuai syariah.
5.      HPAI melahirkan dokter herbalis dan peniaga dengan moralitas yang luhur dan menjaga prinsip-prinsip syariah.[5]


[1] Diolah dari sumber blog desa, “Sejarah Desa,” dalam http://pakambandaja.blogdesa.net/2016/08/sejarah-desa.html?m=1. Diakses pada Selasa 9 Juli 2019.
[2] Diolah dari sumber Kemenag, di: http://simas.kemenang.go.id/index.php/profil/mushalla/page/150/?tipologi_id=&kecamatan_id=3875. Diakses pada Selasa 9 Juli 2019.
[3] Nama Mushalla al-Mabrur secara statistik tidak masuk dalam data kemenag, dikarenakan belum terdaftar sehingga datanya tidak ditemukan. Nyatanya, masih banyak dari beberapa mushalla yang oleh masyarakat digunakan sebagai wahana menstransimisikan keilmuan.
[4] Kelompok kerja CELLS untuk DIKTAT KHT DASAR, “Diktat KHT Dasar Kuliah Herba Thibbun Nabawi Tingkat Dasar,” edisi revisi (ttp: tnp, 2018), 20.
[5] Tim Leader Terbaik HNI Yang Telah Membuktikan Prestasi Terbaik dan Keteladanan Tinggi dalam Cara Kerja Benar di Bisnis Halal Network HNI, “Buku Paket Agen Sukses” edisi revisi (ttp: CELLS HNI, 2018), 3-10.