Layaknya kehidupan, menulis adalah anugerah dan kerinduan. Jika kehidupan anda gundah gulana, maka hanya MENULIS menjadi penawarnya. Dengan menulis maka akan menemukan teman baru sebagai tempat curhat. Kegembiraan baru bisa dirasakan setelah tulisan telah benar-benar muncul di hadapan kita. Itulah sebabnya, menulis menyehatkan. Karena hormon terus hidup dengan berkomunikasi, walau dengan tulisan.
Wednesday, March 28, 2018
TERDAMPAR (Sebuah pertarungan) Cerpen menggetarkan Hati. Terus Baca.
"Musim kemarau mulai mengintip. Ia sudah berada di ujung pintu"
Demikian orang-orang mengistilahkan pergantian musim. Kalau di daerah seperti di pelosok desa, pergantian musim menjadi momen paling menarik. Biasanya, masyarakat setempat memiliki aneka ragam aktivitas yang padat, seperti menanam tembakau tembakau, bawang, membakar batu kapur (gampin kata orang madura) dan semacamnya. Sebab, dengan pekerjaan itu kebutuhan hidup dapat terpenuhi.
Kyai Hari merupakan tokoh setempat. Dia adalah penduduk desa "Tana Mira". Penghasilannya dia dapatkan dari bertani. Selain itu, Kyai ini sangat tekun beribadah dan membimbing anak-anaknya belajar Alquran dan ilmu-ilmu lain.
Kyai Hari ini memiliki dua anak laki-laki. Yang tertua sudah kuliyah, sementara yg termuda masih di MA.
Kyai hari berambisi kuat putra-putranya bisa menguasai ilmu agama Islam, seperti memahami baca kitab kuning, karena dengan menguasainya memudahkan memahami substansi agama.
Berbagai usaha dilakukan agar kedua putranya betah di pesantren.
Sebenarnya, kedua putranya oleh Kyai Hari disekolahkan di pesantren, pesantren ternama di Madura. Pesantren ini pada esensinya adalah tertua di Madura. Di pesantren inilah kedua putra Kyai Hari diletakkan. Akan tetapi Tuhan menakdirkan lain, putra termudanya tidak terlalu lama belajar di pesantren karena terlalu sering kesakitan. Akhirnya, ia pindah ke pesantren yang tdk terlalu jauh dengan tempat tinggalnya.
Kyai Hari, selain sebagai orang yg tidak pernah belajar ilmu seperti teknologi, politik, tetapi dia bisa merasakan kegelisahan putra-putranya.
Hanif, putra termuda, misalnya. Dia tampak gelisah ketika merespon teman-teman sejawatnya memiliki alat hiburan seperti HP. Dia berusaha keras melakukan caranya agar keinginannya tercapai, mulai dari beralasan bahwa HP itu adalah kebutuhan primer yg dengannya memudahkan belajarnya.
Memang, sekarang, segala hal terakomodasi di internet. Segala sesuatu ada di dalamnya. Karena itu semua orang tertarik untuk memilikinya, tidak terkecuali Hanif, putra termuda Kyai Hari itu.
Kyai Hari mulai menangkap permainan politik putranya itu. Akan tetapi Kyai Hari berusaha untuk tidak segera mewujudkan apa yg menjadi keinginan putra termudanya. Kyai Hari khuwatir, dg diwujudkannya keinginan Hanif, putra termudanya, dapat mengurangi semangat belajar.
Sementara putra tertuanya, Muddin, tidak terlalu sensitif, meskipun pada kenyataannya ia juga tertarik untuk memilikinya. Ia lebih tertarik membeli buku dari pada mainan itu. Sebab baginya, buku adalah teman karibnya. Dan dengan bukun itu, dapat mengetahui banyak hal tentang dunia. Ia bisa menjelajahi dunia dengan buku-buku tersebut.
Tana Mira yg merupakan tempat kelahiran Hanif terdiri dari beberapa pemuda. Bahkan, secara entitasnya, lebih banyak jumlah laki-laki dari pada perempuan.
Pemuda di Tana Mira ini dari dulunya dikenal sebagai orang yg ramah, santun, suka bersahabat. Mereka terjauh dari sikap skeptis yg apabila melihat orang yg menurutnya asing, kemudian mereka mengabaikannya, justru mereka sebaliknya. Semangat menjunjung tinggi solidaritas sangat tertanam kuat-kuat pada diri mereka.
Oleh karenya Hanif menjadi tidak betah di pesantren keduanya karena dia sudah terlanjur membangun persahabatan dengan teman sejak di rumahnya.
Padahal, sebentar lagi dia hampir diwisuda. Wisuda sebagai santri terbaik karena kemampuannya menyelessaikan studinya di pesantren keduanya itu. Pesantrwn keduanya ini terkenal dengan sistem terbaiknya mencetak kader santri yg berpengalaman menguasai kitab tutast. Karena itu, Kyai Hari tidak mau membelikan Hanif seperti HP agar masa belajarnya menjadi maksimal.
Terus bagaimana sikap Hanif merespon kedua orang tuanya dan kakaknya, Muddin?
Apa yg terjadi dengan Hanif setelah dia tidak dapat menggapai apa yg menjadi citanya, apakah dia berlagak seperti orang brutal, yg berharap agar ayahnya membelikan keinginannya?
Tuesday, March 27, 2018
Mendialogkan Kembali Pesan Simbolik Isra Mi’raj
Mendialogkan Kembali Pesan Simbolik Isra Mi’raj
Judul buku : Rihlah
Semesta Bersama Jibril As; Menguak Perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw
dari Aspek: Hikmah, Nilai Filosofis, Pesan Simbolos, Sufistik dan Saintifik
Penulis :
Muhammad Atid dkk.
Penerbit :
Lirboyo Press, Kediri
Cetakan :
Kedua, September 2017
Tebal :
XXVIII+444 halaman
Isra’ mi’raj dalam Islam sebagai hari bersejarah, dan karena itu ia
terus diperingati sebagai hari besar Islam. Di Indonesia, setiap tanggal 27
rajab, ditetapkan sebagai hari resmi memperingati perjalanan isra mi’raj Nabi
Saw yang terjadi 15 abad yang lalu. Meskipun begitu, berkaitan dengan waktu
kapan terjadinya isra mi’raj, masih menimbulkan polemik di internal para ulama.
Tidak ada yang bisa memastikan kapan hari, tanggal dan waktu terjadinya. Ibnu
Hajar Al-Asqalani saja menampilkan, sedikitnya ada sekitar kurang lebih 10
pendapat mengenai penetapan perjalanan Nabi ini, tetapi beliau tidak sampai
pada mengunggulkan pendapat salah satunya, melainkan hanya mengambil benang
mirah dari beragam pendapat tersebut, bahwa (1) perjalan Nabi ini terjadi setelah
terutusnya Nabi Saw menjadi Rasul; (2) setelah wafatnya Sitti Khatijah, istri pertama
Nabi; (3) sebelum peristiwa hijrah.(h: 202-206)
Meskipun tidak dijumpai kata mufakat dalam menetapkan kapan
terjadinya rihlah semesta Nabi Saw ini, bukan berarti memperingati
peristiwa bersejarah ini tidak penting. Isra dan mi’raj Nabi, sebagai mana
sebut Muhammad Atid dkk.(penulis buku ini), bukanlah peristiwa nonsens atau
peristiwa tanpa makna. Peristiwa ini terjadi bukan tidak membawa pesan apapun
atau hanya sekedar untuk menjemput perintah Allah Swt, yaitu perintah shalat
lima waktu, perjalanan Nabi ini memiliki seleksa rahasia, pesan-pesan dan isyarat-isyarat
yang sangat berharga.
Buku “Rihlah Semista Bersama Jibril As Menguak perjalanan Isra
Mi’raj Nabi Muhammad Saw” ingin menghadirkan kembali nilai-nilai simbolis yang
sarat hikmah untuk mengisi kekosongan sejarah di tengah-tengah dialog umat
Islam. Banyak kejadian menakjubkan dan mengerikan yang dipertontonkan kepada
Nabi pada saat peristiwa isra mi’raj. Seluruh kejadian itu menjadi simbol
perilaku dan kehidupan seluruh manusia di muka bumi. Karenanya, buku ini sangat
menarik untuk direnungi, diselami sekaligus dihayati berbagai pengalaman yang
diraih Nabi Muhammad Saw dalam peristiwa isra mi’raj.
Selain itu, buku ini mengangkat sisi lain dari peristiwa isra
mi’raj. Di dalamnya tidak hanya menceritakan bagaimana peristiwa unik terjadi,
melainkan diulas pula nilai-nilai filosofis, pesan simbolis, sufistik sampai
dengan kajian sains. Inilah kemudian, hemat kami, sisi lain yang membedai dari
buku-buku yang lain yang pada saat bersamaan mengangkat kajian pada tema yang
sama, yaitu isra mi’raj. Buku ini menghimpun kisah-kisah mulai dari awal dialog
Nabi dengan Jibril, perjumpaan Nabi dengan para Nabi, Malaikat hingga akhirnya
potret dialog Nabi dengan Tuhannya.
Di antara beberapa buku ketika membahas perihal isra mi’raj,
biasanya yang diperselisihkan berputar pada permasalahan rihlah jasmaniyah
dan rahaniyah. Apakah yang diisrakan adalah jasad Nabi atau rohnya saja. Ada
lagi yang melalui sisi sebab-sebab terjadinya isra. Sementara itu, ada pula
yang mengoraikan dari sisi sosiologis, bagaimana respon masyarakat Quraisy saat
itu ketika mendengar kabar bahwa Nabi telah diisrakan. Dalam buku ini, selain
juga menceritakan hal yang sama seperti yang terdapat dalam kajian buku-buku lain,
lebih dari itu buku ini banyak memberikan jawaban atas sejumlah pertanyaan
penting seputar isra mi’raj, dan mencoba mengajak dengan begitu detail serta
mendalami kisah perjalanan sakral yang ditempuh Nabi Saw. Semisal, perbincangan
perihal, apakah pengalaman isra mi’raj Nabi secara fisikal-rohani atau
nonfisikal-rohani, maka buku ini berusaha menjawabnya pertanyaan-pertanyaan
itu. Degan begitu, gugatan orang-orang yang tidak mempercayai bahwa Nabi pernah
isra dengan alasan kurang rasional, maka buku ini mencoba menjawab segala
tuduhan itu dengan detil.
Buku sangat menarik karena potensi sang
penulisnya mendalami kitab-kitab klasik—mengutip bahasa KH. Abd. A’la—tidak
tertidur lelap dalam tumpukan kitab turats tersebut. Dengan penguasaan
penuh terhadap kitab-kitab klasik (turats) yang merupakan warisan para
ulama-ulama terdahulu, menjadikan kajian buku ini sangatlah menarik. Selain
itu, penulis ingin mengajak kita mendialogkan kembali tema-tema bersejarah ini,
bahwa hari besar Islam (isra’ mi’raj) tidak hanya sebatas seremonial
yang hanya diperingati pada hari-hari tertentu saja, melainkan secara
terus-menerus dihayati, bahwa dengan isra’-nya Nabi Saw inilah hingga
kemudian beliau memperoleh kado spesial dari Allah Swt, yaitu shalat lima
waktu.
Peristiwa atau perjalanan (rihlan) Nabi
menghadap Hadirat Allah Swt, ini merupakan kajadian yang luar biasa, yang belum
dialami oleh Nabi-Nabi sebelumnya. Bahkan, Malaikat pun belum pernah mengalami
hal semacam itu. Nabi Muhammad memperoleh spesialisasi untuk bisa berjumpa
langsung dengan Tuhannya, sementara para Nabi sebelum beliau tidak pernah
mengalami hal serupa seperti Nabi. Malaikat, yang diciptakan dari cahaya, tidak
kuasa berjumpa Tuhannya. Seperti dialog Nabi Muhammad Saw dengan Malaikat
Jibril yang tidak berani menemani Nabi Muhammad menuju Tuhan. Jika Malaikat Jibril sampai memaksa melangkah maju seujung jari
saja dari kawasan terlarang, maka Jibril As akan hangus terbakar oleh
cahaya-cahaya Ilahi. (h: 123)
Thursday, March 22, 2018
Benarkah Orang Tua Nabi itu Non Muslim? maka bacalah tulisan ini.
Benarkah Orang Tua Nabi itu Non Muslim?
Kita
sering bertanya-tanya, benarkah kedua orang tua Nabi Muhammad itu non muslim.
Selanjutnya, logiskah kiranya kalau darah Nabi terlahir dari orang yang non
muslim yang bisa dibilang tidak suci. Kalau mau berargumen, bahwa Allah Swt
pasti mampu melakukan sesuatu kita pasti terima. Akan tetapi, apakah masuk
akal, bahwa seorang Nabi yang mulya itu kemudian dilahirkan dari seseorang yang
terkesan tidak baik, non muslim???
Kemudian,
dalam kitab suci Alquran, Allah Swt berfirman, “Dan kami tidak akan mengadzab (manusia) sampai kami mengutus
seorang Rasul kepada mereka” (QS. Al-Isra’ (17): 15).
Ayat
inilah yang dijadikan dasar adanya fatrah, yaitu masa kekosongan rasul
yang membimbing manusia, yaitu rentang waktu antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad
Saw. karena itulah mereka terbebas dari tuntutan hukum.
Pertama,
Imam Asy-Sya’rawi (Asy-Sya’rawi, Tafsir
al-Sya’rawi, [Kairo: Akhbar Al-Yaum, 1997] vol. 14, 8421) menjelaskan, siksa
Allah hanya berlaku bagi manusia yang melanggar aturan agama yang dijelaskan
oleh utusan Allah. Dengan demikian, mereka yang tidak mendapat bimbingan Rasul
disebut “ahl al-fatrah” terbebas dari siksa Allah. Orang tua Nabi
termasuk dalam kelompok ini.
Kedua,
kurang logis orang-orang yang mengatakan bahwa
orang tua Nabi itu adalah kafir. Allah berfirman dalam kitab suci-Nya, “Dan
Allah (melihat) pergerakanmu di antara orang-orang yang bersujud” (QS.
As-Su’ara’ (26): 219).
Menurut
Ibnu Abbas (Abul Qasim Attabrani, Mu’jam Al-Kabir, [Kairo: Maktabah Ibnu
Taimiyyah, 1994] vol. 11, 326), ayat ini memantau perjalanan cahaya Nabi yang
berpindah secara estafet dari para Nabi sebelumnya yang selalu bersujud kepada
Allah sampai ke punggung Abdullah, sang ayah dan rahim Aminah, sang ibunda.
Tidak
ada satu pun Nabi yang orang tuanya yang menyekutukan Allah. Azar, bukanlah
ayah Nabi Ibrahim. Melainkan pamannya. Orang tua Nabi Saw adalah termasuk
penganut agama yang hanif, yang memegang teguh agama Nabi Ibrahim, sebagaimana
keimana Zaid bin Amr, Waraqah bin Naufal, dan lain-lain. Mereka bukan sama
sekali penyembah berhala.[1]
Nabi
bersabda, “Sungguh, Allah telah menciptakan makhluk dan menjadikan aku yang
terbaih dari mereka. Kemudian dari semua kelomok itu, Allah memilih aku dari
kelompok yang terbaik. Lalu, dari beberapa rumah (atau keluarga), Allah memilih
aku dari keluarga terbaik. Jadi, akulah manusia di antara mereka, dan dari
rumah atau garis keturunan yang terbaik pula” (HR. Tirmidzi 3607 dari Abbas
bin Abdul Muthalib).
Terkait
pemaknaan kata ‘abi’ belum tentu itu berarti ayah Nabi. Benar, Nabi pernah
ditanya oleh para sahabat, “Wahai Rasulullah, di mana ayahku kelak?” Rasul
menjawab, “di Neraka”. Ketika orang itu berpaling pergi, Rasulullah
memanggilnya, “ayahku dan ayahmu di Neraka” (HR. Muslim 347 dari Anas bin Malik).
Para
ulama ahlussunnah waljamaah mengartikan ‘abi’ pada hadis di atas denga ‘paman’.
Sebab, dalam tradisi Arab, paman biasa dipanggil abi. Nabi Ibrahim juga
memanggil Azar, pamannya dengan panggilan ‘abun’ atau ayah.[2]
Karena
itu, kesimpulannya, tidal logis bila Nabi yang merupakan makhluk termulya harus
menyaksikan ayah yang memancarkan sperma sehingga menjadi janin Muhammad, dan
ibunya yang melahirkan, berada di dalam Neraka.
Tuesday, March 20, 2018
MAKALAH SPIRITUAL
LATAR BELAKANG
A. Pengantar
Spiritual, dalam Islam, biasa
dilakukan untuk memantapkan rohani kita untuk menjadi insan agar lebih baik
dari sebelumnya. Memantapkan hati tersebut tidak semudah membolakbalikkan mata,
tetapi harus dilalui dengan praktek mujahadah dengan sungguh-sungguh, agar hati
bisa terlatih semakin mantap dan bersih. (Secara sederhana, sebelum manusia itu
diciptakan, sebelum itu kita berupa ruh)
Seperti apa
prakteknya, maka di bawah ini penulis meresa perlu terlebih dahulu merumuskan
kajian dalam makalah sederhana ini agar pembahasan lebih terarah dan sesuai
mikanisme yang lebih spesifik dan teratur.
B. Rumusan masalah:
1. Pengertian
spiritual
2. Kiat membangun
kecerdasan spiritual melalui olah qolbu
3. Karateristik
orang yang memiliki kecerdasan spiritual
4. Praktek
pendidikan spiritual nabi Muhammad saw
PEMBAHASAN
A.
Pengertian kecerdasan spiritual
Menurut kamus Webster
(1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin “spirit” yang
berarti nafas dan kata kerja” spirare”
yang berarti untuk bernafas. Jadi, melihat dari asal katanya untuk hidup adalah
untuk bernafas, dan bernafas artinya memilki spirit. Dalam hal ini memilki
ikkatan yang lebih kepada hal-hal yang
bebrsifat kerohanian atau kejiwaan.
Sebagai penggagas
utama kecerdasan spiritual yakni Zohar dan Marshall.Mengemukakan tentang
pengertian kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan
memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan
perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih
bermakna dibandingkan dengana yang lain. SQ adalah landasann yang d iperlukan
untuk menfungsikan IQ, EQ secara
efektif, bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi.
Pada mmmulanya
manusia berada ditempat yang tinggi sebagai makhluk spiritual murni yang
kemudian ruh spiritual itu dipadukan kedalam materi yang kongkrit bberupa tubuh
atau jasad manusia yang terbuat dari tanah. Maka lahirlah manusia yang tidak hanya memilki tubuh tetapi memilki
sifat spiritual sebagaimana firman Allah dalam surat al-a’raf 7: 132.
Artinya:
“Dan
ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak adam a dari
sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman).”bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab” betul” (engkau Tuahn
kami). Kami menjadi saksi. (kami lakukan yang demikian iitu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan. “sesungguhnyha kami adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Allah).
Dalam termenologi islam dapat dikatakan bahwa SQ
adalah kecerdasan yang bertumpu pada qolb. Qolb inilah yang sebenarnya
merupakan pusat kendali semua gegrak anggota tubuh manusia.Ia adalah raja bagi
semua anggota tubuh yang lain.
Spiritual dalam
pengertian yang luas merupakan hal yang berhubungan dengan spirit.Sesuatu yang
spirit merupakan kebenanran yang abadi yang berhubungan dengan tujuan hidup
manusia. Sering dibandingkan dengan sesuatu
yang duniawi dan sementara. Pihak lain yang mengatakan bahwa spiritualitas memilki dua proses, pertama:
proses keatas yang merupakan tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah
seseorang dengan Tuhan. Kedua: proses kebawah yang ditandai dengan
peningkatan realistis fisik seseorang akibat perubahan internal. Perubahan akan
timbul pada diri seseorang dengan meningkatkan kecerdasan diri Diana
nilai-nilai ke Tuhanan didalam akan termanifestasi keluar melalui pengalaman
dan kemajuan diri. Dari beberapa uraian
pengerian diatas dapat disimpulkan bahwa pengerian spiritual (SQ) adalah
kecerdasan yang berhubungan erat dengan bagaimana menghadapi persoalan makna
hidup atau bagaimana hidup menjadi bermakna dengan bertumpu pada qolb (hati
yang secara fitrah mengakui ke-Esaan
Allah).
B.
Kiat membanngun kecerdasan spiritual melalui olah qolb
Pada dasarnya manusia
itu dilahirkan dengan bekal fitrah kecerdasan
spiritual untuk mengenal Allah dan beriman kepadaNya. Namun kenyataannya
bisa dikatakan manusia modern ini sedang mengalami krisis kecerdasan spiritual
yang terbukti dengan adanya banyak penyimpangan dan konfik sosial yang banyak
dilakukan oleh orang yang memilki kecerdasan intelektual yang tinggi dan
kecerdasan emosional yang tinggi pula.
Semua orang menyadari
bahwa kesuksesan manusia itu tidak hanya
diukur oleh kecerdasan intelektual (IQ), ataupun kecerdasan emosional
(EQ) yang dipromosikan didunia pengetahuan. Tetapi juga ditentukan oleh
kecerdasan spiritual. Ketika kecerdasan intelektual diperoleh melalaui olah
akal, dan kecerdasan emosional diperoleh melalui olah jiwa maka, kecerdasan
spiritual diperoleh melalui olah qolbkarena seluruh gegrakan dan sepak terjal manusia bersumber dari satu
titik yaitu qolb. Yang dalam bahasa indonesianya sering diterjemahkan dengan
hati. Qolbulah yang mengendalikan segala bentuk tingkah laku manusia, dari sana
kedamaian mengalir dan dari sana pula
kesengsaraan bermula sesuai dengan sabda nabi saw:
عن نعمان بن بشير ال
سمعت رسول اله صلعم قال الا وان في
الجسد مضغة ادا صلحت صلح الجسد كله وادا فسدت فسد الجسد كله ا وهي القلب
رواه البخاري
“Dari
Nu’man bin Basyir ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “ ketahuilah bahwa
didalam tubuh manusia ada segumpal
daging, apabila ia baik maka baikpula seluruh fisik manusia,
dan sebaliknya apabila ia buruk maka buruk pulalah sekujur tubuhnya, ketahuilah
bahwa ia adalah hati.(HR Bukhari)
Langkah penting untuk meningkatkan
kecerdasan spiritual, namun hal ini harus disertai dengan latihan, ketekunan
dan kesabaran diantaranya:
1.
Banyak merenung
persoalan-persoalan hidup baik yangterjadi dalam diri sendiri maupun diluar diri sendiri secara
mendalam contohnya; merenung atau selalu bertanya-tanya tentang “sebenarnya
siapa saya? Dan hendak kemana saya? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang
fundamental yang mengantarkan manusia pada kecerdasan spiritualntualnya
2.
Melihat kenyataan-kenyataan
hidup seperti kematian, kecelakaan dan musibah-musibah lain yang terjadi secara
nyata dihadapan kita atau manusia
3.
Merasakan kehadiran Allah yang
begitu dekat pada saat dzikir, shalat dan dalam aktifitas-aktifitas lain.
4.
Berdo’a. dari
rangkaian-rangkaian usaha yang kita lakukan, bebrdo’a juga bebrperan penting
sebagai bukti bahwa manusia menyadari
kelemahannya. Manusia hanya diberi fasilitas untuk dimanfa’atkan sedangkan
hasilnya Tuhan yang menentukan.
Salah satu cara lain untuk mengembangkan kecerdasan
spiritual sebagaimana yang telah disebut diatas bahwa untuk meraih kecerdasan
spiritual satu-satunya adalah dengan memanaje atau memngolah hati dan mengobatinya.
Cara
menyembuhkan penyakit qalbu itu ada lima
1.
Membaca al-qur’an sebagaimamna yang disabdakan nabi saw:
عن ابي امامة الباهلي
قال سمعت رسول الله صلعم يقول اقرؤا
القران فانه ياتي يوم القيامة شفيعا لاصحابه
رواه المسلم
“Dari Abu
Umamah al-Bahili, berkata,” saya mendengar Rasulullah sawbersabda,” bacalah
al-Qur’an karena al-Qur’an a kan datang
pada hari kiamat dan memberikan syafa’at
pada orang-orang yang suka membacanya
(HR Muslim)
Allah juga berfirman dalam surat yunus ayat 57
“hai manusia
sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh dari penyakit-penyakit (yang
berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (Q.
yunus, 57)
1.
Berpuasa sebagaimana hadits
nabi saw:
عن ابي سعيد الخدري رضي الله عنه قال سمعت النبي صلعم
يقول من صام يوما في سبيل الله بعد الله وجهه عن النار سبعين خريفا رواه البخاري
“ dari Abi Sa’id al Khudri
ra ia berkata, “ rasulullah saw
bersabda, “barang siapa yang berpuasa satu dalam jalan Allah swt, maka Allah
swt akan menjauhkan dari api neraka selama tujuh puluh tahun (HR Bukhari)
2.
Shalat malam (tahajjud) dengan
khusyu’
Allah
bebrfirman dalam surat al-isra’ ayat: 79
“Dan pada
sebagian malam hari bersembahyang tahajjudlah
kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat
kamu ketempat yang terpuji”
Sabda nabi
saw tentang hal ini:
عن بلال ان رسول الله صلعم قال عليكم بقيام الليل فانه
داب الصالحين قبلكم وان قيام الليل قربة الي الله ومنهاة عن الاثم وتكفير للسييات
ومطرة للداء عن الجسد رواه الترميدي
“ dari Bilal, sesungguhnya
Rasulullah saw bersabbda, “hendaklah kamu melaksanakan shalat malam karena hal itu adalah kebiasaan orangorang shaleh
sebelum kamu. Ia dapat mendekatkan kamu
pada Tuhanmu. Mencegah perbuatan doa,
menghapus segala keburukan, serta
mengusik penyakit dari jasad (HR
tirmidzi).
3.
Berdzikir
Suasana
tenang dan hening akan menjadikan seseorang lebih husyu’, konsentrasi dan
meresapi dzikir dan do’a yang dibaca. Sungguh sangat terpuji bagi seorang hamba
yang dududk bersimpuh dihadapannya dengan titik air mata mengalir seraya memohon ampuna tas dosa-dosa
yang telah diperbuatnya. Dan menyesali, meneguhkan qolbu untuk tidak megulangi
lagi semua noda dan dosa yang dilakukan.
Dengan
teru-menerus berdzikir seperti ini maka
qolbu akan menjadi tenagng dan tentram. Dan
itulah symbol orang-orang taqwa yang Allah menjanjikan kepadanya denngan balasan surga. Yakni firman
Allah dalam surat azzariyat ayat 15-18:
Artinya:
”Sesungguhnya
orang-orang bebrtaqwa berada ditaman-taman (surga) dimata air-mata air, sambil
mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka
sebelum itu didunia adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali
tidur diwaktu malam; dan di akhir-akhir
malam mereka memohon ampun (kepada Allah swt).
4.
Bergaul denngan orang-orang
shaleh
Manusia
adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, termasuk dalam
hal berteman. Manusia sangat membutuhkan seorang sahabat.Dan dalam
pertemanan perlu adanya kecocokan.Karena itu, selektif dalam bergaul sangat
dibutuhkan. Teman dapat membawa kita pada
kebahagiaan sekaligus akan menjerumuskan kita pada lubang kesesatan yang
sangat dalam.
C. Karakteristik orang yang memilki
kecerdasan spiritual
Menurut
Jalaluddin Rahmat (2007) individu yang memilki kecerdasan spiritual tinggi
memilki beberapa karakteristik sebagai berikut:
1.
Kemmapuan untuk mentransenndensikan
yang sfisik dan meterilal.
2.
Kemampuan mengalami tingkat
kesadaran yang memuncak.
3.
Kemampuan untuk mensakralkan
pengalaman sehari-hari.
4.
Kemampuan: untuk menggunakan
sumber-sumber spiritual sebagai bahan untuk menyelesaikan masalah.
5.
Kemampuan untuk bisa berbuat
Karakteristik
diatas baik secara fisik maupun material merupakan komponen inti dari kecerdasan spiritual. Orang yang cerdas
secara spiritual menyelesaikan masalah tidak hanya menggunakan rasio dan emosi
saja tetapi bisa menggunakan makna hidup secara spiritual.
Orang yang memilki kecerdasan spiritual juga bisa
dipandang pada perilakunya yang baik,
suka tolong-menolong, mengasihi sesama, arif dalam menyikapi persoalan
(memahami iman, mmendalami islam, dan mengamalkan ihsan). Kkarena Rasulullah
juga pernah bebrsabda:
خير الناس انفعهم للناس
Artinya:
“Sebaik-baik
manusia adalah memberikan manfa’at kepada manusia yang lain.
Suka
mema’afkan juga termasuk ciri dari orang yang memmilki kecerdasan spiritual.
Tindakan mema’afkan adalah untuk kebaikan kita sendiri bukan untuk orang lain
karena akan membawa kita pada
kemuliyaan, kesehatan dan keselamatan. Sikapa mmembenci a kan membunuh pada diri kita sendiri baik
didunia maupun diakhirat .Allah swt berfirman” dan hendaklah mereka suka mema’afkan dan mengampuni, bukankah kalian menginginkan
Allah mengampuni kalian (Qs An-Nur 24: 22).
D. Praktek pendidikan spiritual nabi
Muhammad saw
Rasulullah
adalah teladan bagi ummat manusia tiada yang melebihi keagungan kepribadiannya,
sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa peneliti ilmuan didunia (Amstrong)
mengakui bahwa Muhammad adalah genius, spiritual intelegensi, orang yang pantas
mendapat julukan pendidk ulung yang
mampu menjadikan murid-muridnya tidak
hanya pandai secara intelektual, emosinal tapi juga matang dari segi spiritual.
Salah satu contoh murid nabi yang hebat: cerdas IQ, EQ, SQ adalah
sayyidinah Abu Bakar, Umar Utsman dan sayyidina Ali dan sahabat-sahabat lain yang tidak mungkin
disebutkan satu-persatu dalam pembahasan ini.
Amstrong
juga menjelaskan dengan jujur bahwa
beliau adalah seorang yang sangat cerdas (a man of exceptional genius)dan
juga spiritualgenius. Sebagai seorang pendidik agung manusia tentu nabi memilki keinginan yang kuat untuk
menularkan “virus” kecerdasan spiritualnya kepada ummatnya melalui
pengajaran dan pendidikan yang berlangsung bersama sahabat-sahabatnya.
Pendidikan spiritual yang diajarkan nabi MUhammamd saw pada peserta didiknya
adalah spiritual yang mewujud dalam kepribadian yang nyata yang kongkrit yang d
itandai dengan kejujuran yang tinggi, integritas, kedissiplinan, keteguhan
memegang prinsip, sanggup melampaui segala bentuk rintangan, kesedihan dan
lain-lain yang semua materi disumberkan
pada al-Qur’an. Al-Qur’an selain menjadi media pendidikan al-Qur’an juga
menjadi kerikulum utama pendidikan beliau salah satu contoh pendidikan
spiritual yang dicontohkan nabi yaitu:
عن ابي هريرة رضي الله نه قال قال رسول لله صلعم انضرواالي من اسفل منكم ولا
تنضرواالي من هو فوقكم فهو اجدرا ان لا
تزدروا نعمة الله
“Diriwayatkan
dari Abu Hurairah ra Rasulullah saw bbersabda lihatlah orang yang lebih rendah
dari kalian, dan janganlah kalian melihaht orang yang lebih tinggi dari kalian.
Hal itu lebih pantas dari kalian agar
tidak meremehkan nikmat yang telah
diberikan Allah atas kalian (HR Bukhari Muslim).
Kandungan
spiritual dari pesan hadits diatas bahwa nabi tidak menginginkan muridnya
menjadi orang yang kufur ni’mat. Tetapi
menginginkan muridnya percaya diri, menerima atas apa yang dikehendaki Allah.
Disamping itu mengandung pesan spiritual agung seperti: melihat orang yang
lebih rendah dari kita. Artinya banyak
yang harus kita lihat dibelakanga atau di bawah kita : menyantuni anak
yatim, beri makan fakir miskin, dan lain-lain.
Nabi
Muhammad juga sangat tidak senang kepada muridnya yang menghabiskan seluruh
hidupnya untuk melakukan shalat malam, puasa terus-menerus sepanjang hidupnya
atau bahkan ada yang tidak mau menikah dengan perempuan, karena semata-mata
ingin mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana sabdanya:
Artinya:
“Ada tiga
orang yang datang kerumah istri-istri nabi saw. Mereka semua menanyakan
bagaimana ibadah yang dilakukan oleh nabi saw. Setelah mereka diberi tahukan
(tentang ibadah nanbi saw) mereka
seakan-akan menganggap sedikit dan mereka
berkata: (kaalu begitu) dimanakah posisi kita disbanding nabi saw
padahal dosa beliau yang s udah lalu dan dosa yang akan datang sudah diampuni?
Salah satu dari mereka lalu berkata: “ saya akan melakukan shalat
malam selamanya”. Yang lain mengatakan: “ saya a kan berpuasa sepanjang
tahun, selamanya, dan saya tidak a kan berbuka”. Yang lain lagi mengatakan:”
saya akan menjauhi wanita selamanyasaya tidak akan menikah”. Setelah itu
Rasulullah saw datang kepada mereka dan bersabda:” kalian yang berkata begini
dan begini? Ingatlah, demi Allah! Saya adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa
(dianntara kalin). Akan tetapi saya
berpuasa dan saya berbuka. Saya melakukan shalat dan saya tidur.Saya
juga menikahi perempuan. Siapa yang tidak senang terhadap sunnahku, maka di
bukan golonganku!.
Dengan
demikian spiritual yan dikehendaki nabi Muhammad saw adalah spiritual yang
manusiawi yang tidak sampai mengekang atau membunuh. Sifat-sifat dan
karakter dasar manusia, nabi Muhammad
saw sering menegaskan kepada murid-muridya bahwa dirinya adalah manusia biasa
seperti mereka juga pernah sakit, pernah berbuka saat puasa sebagaimana firman
Allah dalam surat al-kahfi.
Itulah
serangkaian contoh dan praktek pendidikan spiritual nabi Muhammad saw dan mamsih banyak
contoh-contoh lain yang diberikan nabi dalam pengembangan spiritual pada
murid-muridnya.
Sebagaimana
fitrahnya manusia dikaruniai kecerdasan oleh Allah berupa kecerdasan intelektual (IQ) kecerdasan emosional(EQ) dan
kecerdasan spiritual (SQ). ketika kecerdasan intelektual dapat juga diperoleh melalui pendidikan seperti belajar,
membaca dan menulis serta mengkaji ilmu-ilmu yang lain yang berkaitan dengan mengasah otak dan meraih
kecerdasan intelektual yang tinggi. Dan kecerdasan emosional biasanya diperoleh
melalui pergaulan hidup serta kecerdasan
spiritual biasanya diperoleh dari kematangan hidup. Kematangan hidup dapat kita teladani nabi Muhammad saw
sejak lahir hingga wafatnya beliau. Kehilangan orang yang beluiau cintai,
penderitaan saat menyebar luaskan islam.
Keutuhan
spiritual adalah potensi untuk selalu menjadi baik memaksa seseorang untuk
mencari jalan bagi spiritualitasnya.Yang dicari adalah ketenangan hidup
(kebahagiaan hidup) dan makna hidup.Semua tidak bisa diberikan oleh kelimpahan
materi, ketinggian jabatan dan popularitas.
Keutuhan
spiritualitas dapat diperoleh melalui jalan integritas diri, penghormatan
(kometmen) pada kehidupan dan penyabaran kasih sayang, dan cinta.Hal-hal ini
tidak berkaitan langsung dengan ritual agama.Maksudnya tidak selalu orang yang
rajin shalat, rajin kegereja, naik haji berulangkali adalah orang yang memilki
spiritualitas.Justru banyak agamawan yang kehilangan spiritualitasnya karena
terlalu mengandalkan ritual, upaccara dan formalitas agama. Ritualitas dan
spiritualitas adalah dua hal berbeda
walaupun berkaitan.
RAKYAT KECIL BUTUH FIGUR
KRISIS FIGUR
“Figur merupakan sosok terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Posisinya
sebagai figur, paling tidak, ia menjadi cerminan dalam berproses menjalani
kehidupan menjadi semakin baik”.
Kalimat singkat, padat, sarat kritik muncul dari salah satu peserta
anggota rapat, yang menyadari akan eksistensi figur dalam kehidupan mereka.
Usulan yang muncul dari peserta rapat merupakan respon atas kegelisahannya yang
akhir-akhir ini mulai dirasa hampir punah—untuk tidak mengatakan nyaris sama
sekali tidak ada. Sebagai implikasinya, kamar yang pernah mendapatkan pengakuan
sebagai kamar terbaik, kini mulai kehilangan jati dirinya sebagai kamar representatif
(unggulan), dan penduduk kamar yang terkenal aktif dan ramah, lingkungan yang
damai dan struktur kepengurusannya yang baik, agenda kamar yang rutin, tertib
dalam menta’ati aturan, yang sedari dulu amaliyah hasanah ini oleh
penduduk kamar dilestarikan, akhir-akhir ini mulai luntur. Hal itu, menurut
mereka, disebabkan tiadanya seorang figur yang bisa mencerminkan dirinya
sebagai teladan hidup.
Atas dasar beberapa kasus di atas, mereka (penduduk kamar) menjadi
berani melakukan tindakan amoral, dengan melakuakan sebuah tindakan yang sama
sekali kurang bermanfaat. Mereka tidak lagi menta’ati aturan yang ada. Mereka
menganggap bahwa aturan tersebut telah ternodai. Lebih dari itu, aturan tidak
lagi mengikat sebab tidak ada lagi figur, sebaliknya mereka menilai bahwa semua
ini sama: tidak ada lagi senioritas yang bisa didengar ucapannya, nasihatnya
meskipun itu baik, selain itu mereka menilai bahwa hanyalah keburukan yang ada
pada diri senioritas, yang tidak lagi patut untuk diteladani.
Sejujurnya, tidak seorang pun di antara sekian senioritas yang
dirinya telah merasa paling benar. Selanjutnya, secara jujur, tidak mungkin
ada—meskipun ini benar kenyataannya—dari sekian santri senior mau dirinya
dijadikan figur, sebab dirinya merasa kurang pantas untuk di posisi seperti
itu. Secara personal, mereka memiliki keinginan yang tidak jauh berbeda dengan
santri junior, yaitu sama-sama ingin belajar memperbaiki diri, terlepas dari
beban moral yang selama ini telah disandingkan pada diri mereka (senioritas).
Tetapi karena hal itu merupakan beban moral mereka, karena mereka merasa bahwa
selama ini telah dibesarkan dan dididik di pesantren tempat menuntut ilmu,
meskipun dengan berat hati dan diliputi perasaan waswas, maka dicobanya untuk
menjalankan tanggung jawab tersebut.
Keudian muncul pertanyaan, pantaskah kita menjadikan dia sebagai
pemimpin sementara dia pernah mengalami masa kelam?
Menurut penulis, itu wajar-wajar saja. Sifat salah pasti dimiliki
oleh setiap manusia. Sebab, kesalahan adalah sifat manusiawi yang pasti
dimiliki oleh setiap manusia. Para utusan sekalipun pernah melakukan kesalahan.
Misalnya Nabi Adam As, yang merupakan bapak dari semua manusia, pernah berbuat
salah. Hingga pada akhirnya beliau diusir oleh Allah dari Surga ke Bumi. Nabi
Ibrahim As yang diklaim sebagai bapak dari tiga agama (Yahudi, Nasrani dan Islam),
pernah ditegur oleh Allah karena pada suatu ketika beliau telah tidak memberikan
jamuan terhadap orang yang tidak mau mengikuti ajarannya. Tidak lama Allah
mengirimkan wahyu kepadanya, “Wahai Ibrahim, orang ini berpuluh-puluh tahun dia
kufur kepada saya, tetapi dia tidak pernah saya putuskan rizkupun sehari saja,
baru kali ini saya wakilkan rizkinya melalui engkau sementara engkau mengajukan
syarat ini dan itu”. Beliau ditegur karena telah membiarkan dia (non-muslim)
kelaparan, sementara Allah sendiri memberikan dia makan dan tidak pernah
memutuskan rezekinya sehari pun: sebab tidak semua orang yang berbuat
kejelekan selamanya akan melakukan kejelekan. Pasti pada diri mereka itu ada
pula nilai-nilai kebaikannya. Barangkalai juga manusia sekelas santri
senior?.
Kisah selanjutnya, ada orang perempuan yang pernah berbuat zina
datang kepada Nabi Muhammad Saw memohon agar Nabi menegakkan hukum Allah Swt
padanya. Terus apa kata Nabi, “kamu hamil, tunggu sampai kehamilanmu selesai”.
Setelah si perempuan itu melahirkan dan mendatangi Nabi yang ke dua kalinya,
Nabi menahannya lagi sampai ia menyusui bayi tersebut sampai dua tahun. Setelah
selesai menyusui, maka dijalankanlah hukuman baginya. Kemudian ada salah seorang
mencelanya dengan ucapan yang sama sekali tidak mencerminkan ucapan (akhlaq) yang
baik, lalu Nabi marah dan menegurnya, “Tau apa engkau. Saat ini dia sedang
berenang di sungai, Surganya Allah. Siapa gerangan yang lebih hebat dari dia,
yang menyerahkan nyawanya untuk menjalankan aturan dan hukuman dari Allah Swt”.
Nabi Saw tetap melarang untuk mencaci terhadap orang yang berbuat maksiat,
mungkin dia telah bertaubat kepada Allah Swt.
Larangan mencaci maki sebetulnya sangat dilarang di dalam Alquran
maupun di dalam Hadis. Selanjutnya, bagaimana dengan kita yang posisinya
sebagai santri terhadap senioritas, yang menurut persepsi kita, bahwa mereka
telah pernah berbuat salah? Apakah mereka tetap menilai bahwa selamanya ada
nilai-nilai keburukan dan sama sekali tidak ada nilai kebaikan pada diri
mereka? Tunggu dulu.
Di kisah yang lain, Nabi juga melarang mencela seseorang yang
ayahnya terus-menerus berbuat kejahatan. Sementara putranya akan datang dalam
keadaan Islam. Nabi melarang umat Islam mencela dengan menyebut-nyebut
keburukan ayahnya, “jangan kalian mencaci maki orang-orang musyrikin yang sudah
meninggal dunia, sebab orang-orang yang masih hidup akan merasa terganggu jika
para leluhur mereka dicaci maki”. Agama Islam tidak dibela dengan cacian. Agama
Islam tidak dibela dengan makian. Agama Islam akan jaya apabila dibela dengan
rahmat dan kasih sayang, kegigihan dan kesungguhan dalam menjalankan dakwah dan
agama yang dibawakan oleh Rasulullah Saw.
Selanjutnya, Nabi Muhammad Saw dalam mensyi’arkan agama Tuhan,
beliau tidaklah lepas dari sasaran makian dan cacian umatya. Dalam catatan sejarahnya
sering diceritakan, bahwa Nabi ketika dibuli oleh umatnya, beliau tidak marah,
jauh dari itu beliau mendoakan agar umatnya tersebut diberikan kesadaran
melalui hidayah Allah. Meskipun begitu, Nabi tidak mendoakan mereka—umat yang
memusuhi Nabi—dengan doa yang jelek-jelek. Lain dari pada itu Nabi malah
menyadari atas sikap kasar mereka. Sebab, bagi Nabi, tidak melulu pada diri
umatnya ada nilai kejahatan, suatu saat mereka akan sadar setelah mendapatkan
rahmat dari Tuhan, tentunya melalui hidayah tersebut. Dengan sikap lemah lembut
dan kasih sayang Nabi itulah, kaum kafir Quraisy lambat laun memeluk Islam.
Sementara itu, tidak sedikit dari kalangan non-muslim di Barat
(orientalis) meneliti kisah Nabi, hayatu Muhammad Saw, banyak dari
kalangan mereka menyimpulkan bahwa Nabi adalah sosok ideal yang ramah, jujur
dan bersahabat dengan siapapun, meskipun dengan kelompok di luar komunitas
muslim itu sendiri. Apalagi dengan kelompok muslim?. Nabi Saw juga pernah
berpesan, “Mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik
akhlaqnya,” (HR. Abu Daud dan Ahmad). Dalam hadis lain, “Orang yang paling baik
Islamnya adalah yang paling baik akhlaqnya,” (HR. Ahmad). Dengan demikian, kita
harus pandai mencerminkan prilaku Nabi yang baik ini, tentunya dengan
mengimplementasikan akhlaq yang baik dalam bingkai kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, jelas bahwa mengaktualisasikan akhlah dalam
bingkai kehidupan kita sehari-hari, adalah merupakan bukti dari penghambaan dan
ketundukan kita kepada Allah, serta kepatuhan kita dalam mencerminkan akhlaq
Nabi Muhammad Saw.
Nabi Saw juga berpesan agar kita senantiasa tidak jauh dari para
ulama. Sebab ulama adalah sosok panutan yang memiliki visi-misi melanjutkan misi
(risalah) yang pernah didakwahkan Nabi. Terkait term ulama, Syekh Muhammad
Nawawi bin Imam al-Jawi dalam kitabnya, nashaih al-‘ibat, mengklasfikasikan
ulama ke dalam tiga bagian, Pertama, orang yang menekuni hukum-hukum
Allah Swt. Seperti pemberi fatwa. Kedua, orang yang mengetahui terhadap
dzat Tuhan. Orang itu dinamakan ahli hikmah. Dalam interaksinya dengan sesama,
mereka ini (ahli hikmah) selalu dihiasi dengan akhlaq, sebab di dalam hatinya
telah terpancar sinar (nur) keagungan Tuhan Swt dan hatinya merasakan
kehadiran Tuhan. Ketiga, orang yang sangat agung. Di antara ketiganya
tersebut, predikat ini mungkin saja telah ditempuh oleh teman-teman di antara
kita, baik kakak senioritas kita yang menggauli kita, guru-guru kita yang tiada
hari dan waktu setia membimbing kita, atau barang kali diri kita sendiri
orangnya. Tidak ada orang yang mengetahui itu, wallahu a’lam.
Tingkatkanlah sesuatu yang bermanfaat, dan tinggalkanlah sesuatu
yang kurang bermanfaat. Ingat, menunjukkan sikap angkuh adalah merupakan
kesalahan besar. Nabi menegaskan, bahwa akan datang suatu masa di mana
orang-orang akan lari dari ulama—seperti tidak menta’ati titahnya yang baik.
Atas orang yang demikian ini, akan ditimpakan balasan yang sangat pedih (Syekh
Muhammad Nawawi bin Imam al-Jawi, ttp: 6).
Monday, March 19, 2018
cerpen satu
“Sebenarnya saya tidak setuju atas perilaku Hasan,” kata Febri
kepada Marzuki mengawali pembicaraan.
“Emangnya kenapa dengannya?” kata Marzuki.
“Tidak suka aja”
“Ea kenapa, kok
tumben kamu gitu. Kamu gak biasanya seperti ini. Yang saya tau, kamu suka bersahabat
dengan siapa saja. Sementara sekarang, tumben kamu marah-marah sama seseorang”.
Febri mimang
dikenal oleh teman-temannya sebagai orang pendiam. Hari-harinya kegiatannya,
kalau tidak membaca buku, biasanya dia ngompul-ngumpul bersama teman-temannya,
bergurau dan lain-lain. Selain itu, dia terkenal kalem dan santun. Karenanya
menjadikan Marzuki terheran-heran ketika melihat Febri kedapatan tidak seperti
biasanya; marah-marah pada Hasan, temannya sendiri di kepengurusan pesantren,
tempat mereka belajar. Dan karenanya, Marzuki mengklarifikasinya dengan harapan
mendapatkan kejelasan darinya, Febri.
“Saya tidak marah-marah, karenanya itu bukan karakterku”
“Terus kenapa,” tanya Marzuki berharap mendapatkan kejelasan.
“Aku hanya tidak suka terhadap perilakunya itu”
“Perilaku yang di mana. Sepertinya, dia biasa-biasa saja, hanya saja
saya sering melihat dia suka ketawa terbahak-bahak, atau dia terkadang
joget-joget saat mendengarkan musik yang dia sukai”
“Nah itu masalahnya. Kita kan tahu kalau kita senioritas di sini.
Sebagai senioritas, pastinya harus mendidik adik-adik kita kepada perilaku yang
sepantasnya, sebagaimana kita diajarkan oleh kakak senior kita dulu. Apakah
kamu pernah diajarkan bersikap seperti ini oleh senioritas kita pada saat kita
baru masuk pondok ini?”
“Tidak juga sih”
“Nah, itu
masalahnya”
Lanjut cerita
di edisi berikutnya.
Sunday, March 18, 2018
Selayang Pandang As-Syafi’ie 07
Semual, As-Syafi’ie 07 itu kurang
begitu populer seperti hari ini, dengan menjalankan beberapa program, yang mana
p[rogram ini bisa terus selalu eksis dan mengalami perbaikan secara dinamis
menjadi semakin membaik. Pada awalnya, As-Syafi’ie tidak lah jauh berbeda
dengan rayon-rayon yang lain pada umumnya—seperti rayon Al-Ghazali, Al-Asy’Ari
dll—dengan menjalankan beberapa program ala kadarnya, yang mana program
tersebut sudah menjadi bagian tradisi pesantren, yang—sepertinya—dari semula
tidak ada perubahan. Seperti kita saksikan, As-Syafi’ie sebelum mengembangkan
kegiatan yang pada hari ini sudah begitu populer di daerah Latee, semula rayon
ini belum memiliki kegiatan yang terlalu formal, yang hemat kami, itu kegiatan
tersebut turut membantu pesantren dalam mengembangkan intelektualitas santri.
Sebut saja misalnya adalah 

“diskusi”,
“komunitas menulis”, dan beberapa kegiatan yang lain, yang sangat membantu
dalam meningkatkan semangat belajar santri dalam mengembangkan intelektual
mereka. Akhirnya, lahirlah beberapa kegiatan di masing-masing kamar seperti
diskusi ini. “Diskusi” adalah program paling dominan dari pada
kegiatan-kegiatan yang lainnya. Meskipun begitu, ada program-program yang lain
seperti program tulis-menulis, akan tetapi karena
beberapa
alasan anggotanya seperti adanya beberapa kegiatan di beberapa lembaga, tempat
mereka belajar, menjadikan kegiatan yang sangat penting ini molor. Sebagai
konsekuensinya, kegiatan tulis-menulis tidak berjalan maksimal. As-Syafi’ie 07,
misalnya, yang memiliki buletin kebanggaan kita bersama, sebut saja “Tabligh
(Media Kreasi dan Dakwah)”, sampai hari ini belum terbit kembali. Padahal, dari
hitungan edisinya, Tabligh sudah seharusnya terbit, mengingat jangka waktu yang
lama yang memisahkan dirinya denga para pembaca menjadikan para pembaca
merindukan seperti apa wajah Tabligh di edisi yang berikut ini, mutifasi apa
yang akan pembaca akan peroleh, kini pertanyaan itu terus menggelora dari
mulut-kemulut para netizen, yang sampai
hari ini perbincangan itu belum selesai.


GURU[1]; Digugu dan Ditiru*
Saya semakin bingung atas sikap santri yang kian
hari mengalami perubahan, dengan tidak mencerminkan sebagai seorang santri yang
seyogianya, sebagaimana dalam kesehari-hariannya tidak bisa dilepaskan dari
yang namanya akhlaq, kini kebiasaan yang sejatinya harus dirawat nyaris tidak
lagi diperhatikan (terjadi demoralisasi). Kalau santri dulu (senioritas)
menganggap bahwa akhklaq itu adalah merupakan sesuatu yang sangat signifikan,
maka tidak demikian halnya dengan santri sekarang (yunioritas). Justru akhlaq
dinomor duakan.
Ada beberapa penyebab yang menjadikan seseorang
semacam itu. Di antaranya, kekurang-tahuan, kurannya perhatian dan ketidak-terbiasaan
ketika seseorang itu dalam kesehariannya menjunjung tinggi etika yang baik.
Sebagai contoh, umpama saja, masih saja acangga’ (bahasa pondoknya melawan)
orang yang lebih tua, tertawa kelewatan batas, suka syirik, riya’, mengganggu
orang lain, padahal agama secara tegas melarang perbuatan itu.
Atas kasus ini, sebagai seorang santri hendaknya
berlaku baik dengan terus selalu menciptakan individu-individu yang berkarakter
baik, sopan, bahkan sebisanya menjadi cerminan bagi yang lain. Tentu, untuk
bisa berlaku baik, sebelum melangkah pada memperbaiki orang lain, terlebih
dahulu tentunya harus memulai dari membenarkan perilaku diri kita
masing-masing. Terus pertanyaannya, sampai kapan saat-saat yang pas bagi kita
untuk menegakkan “amar ma’ruf nahi mungkar” sementara kita kurang merasa
pantas karena berbagai alasan dan pertimbangan?
Ada baiknya tulisan ini pembaca ikuti sampai
titik-titik terakhir. Utamanya bagi mereka para santri, baik santri senior
ataupun junior. Senyatanya, tidak ada perbedaan yang mencolok antara santri
senior dengan junior. Di mata Tuhan, semuanya sama, yaitu tidak membeda-bedakan
derajat (kedudukan) dan keturunan, antara yang kaya atau yang miskin, yang
ganteng atau pun yang jelek. Tidak, Dia bahkan lebih menyukai orang yang lemah
dan rendah diri—siapapun itu—dari pada yang sombong, riya’, dan angkuh, atau
bisa jadi orang yang merasa sok suci tetapi kelakuannya sama sekali
tidak mencerminkan perilaku yang baik. Sebagai seorang manusia sama-sama memiliki
kewajiban untuk menegakkan yang ma’ruf (pekerjaan yang disenagi oleh
Allah Swt) dan menjauhi perkara yang mungkar (kelakuan yang dibenci
Allah Swt).
Unsur kelembutan atau kerendahan hati, sebagai
sikap manusia terhadap kebaikan Tuhan, merupakan titik poros etika Islam
sebagian besar, meskipun tidak semuanya, tugas-tugas moral yang dikenal dalam
Islam sesungguhnya berasal dari kebaikan tersebut. Kebaikan diperintahkan
kepada orang-orang beriman dalam setiap keadaan. Kebaikan haruslah merupakan
sebuah prinsip yang melandasi semua hubungan manusia dalam masyarakat maupun
dalam keluarga. Karenannya, sebagai pengelola pesantren seringkali menyampaikan
kepada seluruh santri, baik dalam bentuk tausiyah, dalam kelas, kamar,
dan dalam keadaan ketika santai, menekankan para santri untuk selalu rendah
hati dan lemah lembut terhadap sesama, terhadap orang tua, dan selalu melakukan
mereka dengan baik. Guru ataupun pengurus adalah orang tua para murid. Makanya
di dalam pendidikan diistilahkan dengan “anak didik”, sebab para guru
mendapatkan amanah untuk mengawasi, membina, mengarahkan, membesarkan, merawat,
mendidik kepada yang baik.
Pendidikan di pesantren tidak lah jauh berbeda
dengan pendidikan-pendidikan pada umumnya di luar pesantren dalam hal kurikulum
pelajarannya; kendatipun ada sebagian pesantren yang dalam prakteknya, tidak
menggunakan sistem dualisme kurikulum pelajaran. Yang berbeda mungkin adalah
dalam hal praktek penerapannya. Tulisan ini tidak hendak ingin mendiskusikan
seperti apa wajah beserta implementasi pendidikan di pesantren. Yang akan
didiskusikan di sini adalah penyebab demoralisasi santri di pesantren.
Secara historis, pesantren mendapatkan tempat
kepercayaan masyarakat yang sangat tinggi dalam hal pendidikan keagamaannya. Pesantren,
bagi mereka, adalah tempat satu-satunya yang dipandang mampu mencetak kader
santri unggulan dalam hal mengajarkan bidang ilmu keagamaan. Makanya, sangat
disayangkan apabila citra pesantren dinodai, yang kecewa tidak hanya satu dua
orang, melainkan seluruh masyarakat merasa kecewa, karena pesantren adalah
milik masyarakat dan untuk masyarakat.
Inilah mungkin yang membedai antara pendidikan di
pesantren dengan pendidikan di luar pesantren. Kalau pendidikan di dalam
pesantren, materi tidak hanya sebatas diajarkan di bangku pelajaran, melainkan
dalam prakteknya terus dikembangkan dalam wujud aktualisasi oleh guru atau
pengurus pesantren di hadapan para santri atau murid yang mengenyam pendidikan
di pesantren. Santri senior (yang sudah diangkat menjadi guru) diharapkan bisa
mengayomi santri junior dengan baik, berlaku sopan setiap kali bertemu, sebab
ia menjadi cerminan para santri junior. Sebabnya, guru adalah cerminan dalam
menciptakan etika seluruh santri dalam aktifitasnya sehari-hari. Sebaliknya,
tindakan seorang guru atau pun pengurus yang sama sekali tidak mencerminkan
sebagaimana halnya etika yang baik, maka jangan salahkan apabila junioritas
tersebut berlaku aneh-aneh yang sama sekali tidak sesuai dengan yang diharapan.
Sebab kata pepatah mengatakan, buah itu jatuh tidaklah jauh dari pohonnya.
Maka, para guru terlebih dahulu menyangsikan dirinya, barangkali dirinya lah
selama ini secara tidak langsung telah mengajarkan tingkah laku yang kurang
baik terhadap para muridnya.
Menurut Moh. Nihwan, M.Pd., sebagai seorang guru,
hendaknya mencerminkan perilaku yang sopan, baik dan berbobot, sebab menurutnya
ia mendapatkan tempat yang dalam kesehari-hariannya tersebut tidaklah lepas
dari perhatian para murid. Lebih lanjut beliau mengatakan, “guru adalah
menjadi cerminan murid mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki”. Artinya,
guru harus ekstra hati-hati dalam hal bertingkah laku. Oleh karena itu, bagi
mereka yang sudah mendapat kepercayaan pengasuh di pesantren, misalnya, atau
mereka yang mendapat kepercayaan sebagai pendidik, jangan bangga dulu terhadap
posisi tersebut. Sebab hal itu adalah menjadi tontonan publik dalam hal
menciptakan moral murid yang baik. Maka, sebagai representasi bagi para murid,
seharusnya sebagai seorang guru tidak memperkenalkan tingkah laku yang
aneh-aneh di muka umum, termasuk salah satunya adalah di hadapan para murid,
meskipun secara personal ia mengakui kalau dirinya juga sering lalai dalam hal melakukan
tindakan yang baik tersebut, misalnya sebelum makan lupa membaca basmalah dan
lain-lain; karena lupa adalah merupakan sifat alamiah yang dimiliki oleh setiap
manusia; termasuk para guru dan murid.
Tulisan ini ditulis tidak hendak untuk
mendiskreditkan individu-individu atau kelompok-kelompok tertentu, sebenarnya
tulisan ini ditulis pada dasarnya adalah untuk mengingatkan diri saya pribadi
untuk tidak selalu membanggakan diri dengan mengisi hari-hari saya dengan
tindakan yang amoral, sementara di luar sana ada orang lain yang mengintip
dengan tidak sengaja diri saya pribadi telah ditiru oleh orang lain dalam hal
tindakan amoral itu. Selain dari pada itu, tulisan ini juga tidak hendak
melemahkan mereka yang telah dipercaya sebagai pribadi yang mampu menjadi
pendidik, terlepas dari semua itu paling tidak dijadikan pertimbangan serta
koreksi untuk menciptakan diri kita semakin baik menuju hari-hari berikutnya.
Lebih lanjut, tidak hanya untuk para guru saja untuk melakukan kebaikan dengan
menghiasi kesehariannya dengan etika, tanpa selalu menunggu komando, sebagai
seorang murid, diharapkan menjadi koreksi untuk senantiasa memperhatikan akhlaqul
karimah ini semampu mungkin, dan bisa saling mengingatkan terhadap yang
lainnya, yang kedapatan melakukan perkara mungkar tersebut.
Atas perintah yang ini bukan lah hal baru, dari
era audien historis, masa Rasulullah Saw dan para sahabat nabi berlanjut sampai
era muslim pertengahan kemudian era masa kini, secara berkelanjutan dengan
istiqomah mengamalkan tradisi yang dipertontonkan oleh panutan umat, Rasulullah
Saw. Beliau dalam sebuah hadisnya menegaskan, “Innama buitstu liutammima
makarimal akhlaq”. Tradisi yang demikian ini tetap dilestarikan di
pesantren untuk kemudian ditransmisikan kepada kader santri. Pesantren yang posisinya
menjadi kepercayaan masyarakat sebagai pilihan yang tepat dalam transformasi
ilmu yang baik (hasanah), termasuk dalam hal ini adalah akhlaq, maka
pesantren dituntut untuk mengamini kepercayaan masyarakat dengan terus menjaga
nama baik pesantren dengan tidak mensusupinya dengan citra negatif seperti
tidak dikotori dari stigma yang kurang baik, termasuk dalam hal ini adalah
pendidikan amoral. Terus bagaimana cara merawat tradisi akhklaq tersebut agar
tidak dicederai oleh stigma seperti yang dituturkan tadi, atas hal ini adalah
memperbaiki dengan memberikan pendidikan yang dapat mengantarkan santri pada
suatu yang baik, termasuk salah satunya adalah pendidikan moral. Pendidikan
moral tidak cukup dengan sebatas materi seperti yang diajarkan di dalam kelas
saja, melainkan harus berbentuk praksis (implementatif), sehingga tercipta
iklim lingkungan yang religius dan berkarakter. Kalau semua itu di atas dapat
dipraktekan secara baik oleh santri senior, maka tidak ada tidak mungkin untuk
menyemaikan embrio santri yang berkarakter, religius, ta’at serta patuh kepada
Allah Swt, kepada orang tua, guru dan sesamanya, dalam hal melakukan kebaikan.
Untuk itu, ibda’ binafsik, mulailah dari diri kita terlebih dahulu dalam
melaksanakan kebaikan untuk kemudian ditransformasikan oleh juniortas. Jangan
sampai ciptakan iklim lingkungan yang kurang baik dengan memberikan contoh
perilaku amoral yang tidak seharusnya dipertontonkan terhadap santri junior
kita. Wallahu a’lam bishawab.
*) Ashimuddin Musa, akrab disapa Gus Mus.
[1] Istilah pengurus biasanya disandingkan kepada para
ustadz atau guru yang masih tercatat aktif di pesantren, karena mereka berbaur
langsung dengan para santri dalam kehidupan sehari-hari; berbeda halnya dengan
keumuman guru yang mentransmisikan keilmuannya hanya sebatas di dalam kelas,
bangku belajar atau di meja kampus perkuliyahan, yang berbeda dengan pengurus
yang dalam metode mengajarkan keilmuannya dalam bentuk praktis.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Memuat tata cara pengiriman dan alamat Email Koran yang menerima karya Cerpen/Puisi/Esay. JAKARTA Kompas Cerpen, puisi, esai: opini@k...
-
Silsilah keluarga bani su'din Silsilah ini masih menyandang nama(Bani) GENERASI: 1 GENERASI: 2 GENERASI: 3 ...
-
Islam adalah agama yang turun dari langit--sebuah istilah bukan berarti menganggap Allah SWT mempunyai tempat. Di dalamnya terkandung aja...
-
Maju Desaku PAKAMBAN DAYA DESAKU Dalam rindu ku titipkan Pada burung-burung yang tidak henti-hentinya mengabarkan, Tentang desa...
-
Ruang Kelas Berjalan ditulis oleh K. M. Faizi, penyair nasional sekaligus kyai di lingkungan pesantren Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep. ...
-
Saya sadar, jika tulisan ini tidak serius amat, sehingga pembaca tidak perlu serius juga membaca, apalagi memahaminya. Tulisan ini tidak se...
-
Mendidik Anak Harus Dengan Cinta Judul Buku: Mendidik Dengan Cinta Penulis: Evi Ghozali Penerbit: Prenamedia Group "Mendidik...
-
Sebentar lagi lebaran lho. Sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat, setiap kali memasuki musim lebaran, baik idul fitri maupun idul...
-
TIPS BISNIS BAGI PEMULA ==================== By: Ashimuddin Musa , LED. 1. WAJIB PUNYA IMPIAN, Kenapa? Berbisnis itu gak ad...
-
Ashimuddin Musa. Distributor Center HNI HPAI daerah Pakamban Daya Pragaan Sumenep. WA: 087856262206 🍃 Halal Mart Hpai 🍃: Peluang Bisnis...